Pelabuhan Patimban Dongkrak Daya Saing Industri Otomotif RI

    Husen Miftahudin - 21 November 2020 12:53 WIB
    Pelabuhan Patimban Dongkrak Daya Saing Industri Otomotif RI
    Ilustrasi Pelabuhan Patimban - - Foto: MI/ Reza Sunarya
    Jakarta: Kementerian Perindustrian (Kemenperin) optimistis operasional Pelabuhan Patimban dapat membangkitkan optimisme perusahaan otomotif dan pelaku usaha lainnya. Hal ini akan mendorong pemulihan ekonomi nasional lantaran meningkatnya aktivitas ekspor-impor serta peningkatan produksi dan konsumsi dalam negeri.

    "Kami mengajak seluruh pelaku industri otomotif baik pabrikan kendaraan bermotor, produsen komponen dan sparepart, sampai ke industri bahan baku untuk dapat menjadikan Pelabuhan Patimban sebagai mitra strategis dalam aktivitas bongkar muat barang untuk ekspor impor sehingga pelabuhan ini dapat menjadi pusat perdagangan internasional," ucap Sekretaris Jenderal Kemenperin Achmad Sigit Dwiwahjono dalam keterangan tertulisnya, Sabtu, 21 November 2020.

    Sigit berharap keberadaan Pelabuhan Patimban bakal mendongkrak daya saing industri otomotif di Tanah Air. Apalagi, industri otomotif merupakan salah satu sektor andalan yang memiliki kontribusi cukup besar terhadap perekonomian nasional.

    "Saat ini, ada 19 perusahaan industri kendaraan bermotor roda empat atau lebih yang ada di Indonesia dengan nilai investasi sebesar Rp93,22 triliun untuk kapasitas produksi sebesar 2,35 juta unit per tahun, dan menyerap tenaga kerja langsung sebesar 38 ribu orang, serta lebih dari 1,5 juta orang yang bekerja di sepanjang rantai nilai industri tersebut," ungkapnya.

    Selain itu, produk kendaraan bermotor produksi dalam negeri telah mampu menembus pasar ekspor ke lebih dari 80 negara di dunia. Pada Januari-September 2020, ekspor kendaraan Completely Build Up (CBU) sebanyak 155,25 ribu unit atau senilai Rp28,20 triliun. Kemudian ekspor kendaraan Completely Knock Down (CKD) sebanyak 34,72 ribu set atau senilai Rp1,10 triliun, dan pengapalan komponen sebanyak 40,36 juta pieces atau senilai Rp15,20 triliun.


    "Dalam program Making Indonesia 4.0 yang diluncurkan oleh Bapak Presiden Joko Widodo pada 4 April 2018, sektor industri kendaraan bermotor nasional ditargetkan akan menjadi pemain global dan ekspor hub kendaraan bermotor baik untuk kendaraan berbasis bahan bakar minyak atau ICE (Internal Combustion Engine) maupun kendaraan listrik atau EV," imbuh dia.

    Pemerintah juga menargetkan produksi kendaraan listrik pada 2025 sebesar 20 persen dari total produksi nasional, di mana angka 20 persen termasuk di dalamnya adalah hybrid vehicle, plug in hybrid vehicle, battery electric vehicle, dan fuel cell electric vehicle.

    "Target tersebut akan dapat mendukung pencapaian target pemerintah dalam menurunkan emisi gas rumah kaca (GRK) sebesar 29 persen pada 2030, menarik investasi di sektor industri komponen utama (baterai, motor listrik, dan power control unit) yang memiliki valuasi atau nilai ekonomi sangat tinggi, serta mendorong hilirisasi bahan baku baterai di Indonesia," sebut Sigit.

    Sementara itu, Direktur Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi, dan Elektronika (ILMATE) Kemenperin Taufiek Bawazier menyebutkan jasa pelayanan yang berada dalam ekosistem pelabuhan menjadi faktor produktivitas otomotif.

    Taufiek meyakini optimalisasi Pelabuhan Patimban dapat meningkatkan produktivitas industri otomotif nasional. Kelancaran arus perputaran dalam ekosistem pelabuhan akan menjadi bagian penting untuk memenuhi segala kebutuhan serta percepatan kegiatan di pabrik.

    "Demand di sektor otomotif berkaitan dengan kelancaran, kecepatan, hingga keamanan dari barang yang akan diekspor dan impor bahan baku. Sehingga, pengelolaan pelabuhan jadi nilai utama penunjang produktivitas," papar Taufiek.

    Ia berharap penguatan kegiatan Pelabuhan Patimban dapat dilakukan melalui aplikasi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) pada setiap tahap aktivitas, mulai dari pengangkutan produk, pengiriman, custom clearance, hingga pre-inspection bisa terekam dengan teknologi canggih. Hal ini akan menekan waktu tunda atau delay yang tidak perlu di wilayah pelabuhan.

    Selain itu, pengelola Pelabuhan Patimban dapat menyiapkan tenaga terampil untuk mengurusi beragam kebutuhan dan pelayanan khusus bagi mobil yang akan dikirim ke negara lain. "Artinya, pelabuhan menangkap semua kebutuhan yang ada di sektor otomotif secara optimal," ungkapnya.

    Taufiek menambahkan, disahkannya Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja dan kehadiran Pelabuhan Patimban nantinya diyakini mampu mengerek investasi ke Indonesia. Salah satu hal yang dapat dimanfaatkan adalah adanya kelancaran arus barang dari mancanegara.

    "Ini akan selaras dan memaksimalkan fungsi ekonomi yang ada. Sekali lagi, pengelola pelabuhan perlu betul-betul mengerti permintaan di sektor industri secara garis besar," pungkas Taufiek.


    (Des)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id