Strategi Mempertahankan Bisnis di Era Normal Baru

    Angga Bratadharma - 05 Juni 2020 20:06 WIB
    Strategi Mempertahankan Bisnis di Era Normal Baru
    Ilustrasi pemulihan ekonomi RI di masa new normal. M/Sumaryanto
    Jakarta: Pemerintah menyiapkan berbagai strategi untuk memulai kegiatan perekonomian, pendidikan, kesehatan serta sektor lainnya untuk bangkit dari kertepurukan akibat pandemi covid-19 di era new normal.

    Berdasarkan data yang dirilis BPS, Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia pada triwulan I-2020 tumbuh sebesar 2,97 persen. Melambat dibanding capaian triwulan I-2019 sebesar 5,07 persen. Lesunya perekonomian mendorong sejumlah sektor usaha harus beradaptasi bahkan melakukan shifting.

    "Ada sektor tertentu yang dampaknya sangat besar dan mendalam, dan ada juga sektor-sektor tertentu yang menikmati financial benefit karena meningkatnya permintaan akan kebutuhan-kebutuhan tertentu. Tapi mostly, sektor-sektor lainnya mengalami kesulitan, apalagi sektor health and humanitarian services," ujar International Contact Partner RSM Indonesia Angela Simatupang saat video conference Dreya Forum 'Strategi Menghadapi New Normal Baru' di Jakarta, Jumat, 5 Juni 2020.

    Dia mengatakan, ada banyak masalah yang kemudian membebani sektor-sektor usaha. Misalnya, kolapsnya permintaan konsumen, perubahan regulasi yang signifikan, interupsi pada rantai pasok, pengangguran, sehingga resesi ekonomi yang diambang pintu.

    "Customer demand-nya collapse, itu sudah seperti rantai lingkaran setan. Kuncinya adalah menjaga cash flow, karena cash is king. Kemudian me-maintain likuiditas, karena kita sekarang punya krisis likuiditas," ungkap Angela.

    Karena itu, tegas Angela, organisasi bisnis harus bisa berpikir strategis dan terstruktur untuk bisa pulih. Semua hal harus direncanakan dengan matang, tidak bisa dengan rencana yang bersifat ad hoc. Hal terpenting, imbuh dia, adalah memahami dimana posisi perusahaan dalam lingkungan bisnis.

    "Untuk mengambil keputusan strategis, kita harus mengerti di mana posisi organisasi kita dalam lingkungan bisnis. Di dalam market atau ekosistem bisnis kita, apakah kita leading dibandingkan kompetitor? Apakah kita mampu men-shutdown operation kita, dan kemudian membukanya tanpa berpengaruh apapun setelah pandemi berakhir? Apakah kita malah bangkrut atau menjadi leader? Itu harus dipikirkan terlebih dahulu," paparnya.

    Menurutnya setelah memahami posisi tersebut, langkah selanjutnya adalah bagaimana cara untuk kembali ke posisi yang diinginkan. Dengan rencana aksi yang berbeda, tegas dia, maka rencana mitigasinya pun berbeda pula.

    "Dalam bisnis itu, bukan hanya survive, kita harus bisa sustain. Kita tidak bisa berpikir hanya sampai Desember atau akhir tahun saja. Apakah organisasi kita sudah siap untuk new normal? Apakah kita masih berpikir untuk mengerjakan proyek dengan orang-orang yang sama? Karena kalau kita mengerjakan proyek dengan orang-orang yang sama dengan laju yang sama, maka risiko gagal akan lebih tinggi," tutur Angela.

    Dalam dunia bisnis, shifting sebenarnya bukan hal yang baru. Terutama sejak internet dimanfaatkan oleh masyarakat luas. Melalui stategi shifting, diharapkan para pelaku usaha dapat bangkit dari krisis yang diakibatkan oleh pandemi covid-19. Pelaku usaha juga dapat beradaptasi menghadapi new normal yang mungkin tidak akan kembali seperti semula.

    (ABD)


    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id