Pengusaha Hemat Rp1,5 Triliun dengan Ekosistem Logistik Nasional

    Eko Nordiansyah - 24 September 2020 17:11 WIB
    Pengusaha Hemat Rp1,5 Triliun dengan Ekosistem Logistik Nasional
    Ilustrasi logistik - - Foto: MI/ Abdus
    Jakarta: Pemerintah menyebut keberadaan ekosistem logistik nasional akan memberi keuntungan bagi para pelaku usaha. Bahkan para pengusaha bisa menghemat sekitar Rp1,5 triliun dari biaya logistik yang dikeluarkan setiap tahun.

    Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan ekosistem logistik nasional ini mencakup seluruh proses baik dari hulu hingga hilir. Dengan kata lain dapat membantu menghubungkan para pelaku usaha.

    "Beberapa efisiensi gain dari dibangunnya satu national logistic ecosystem ini baik sisi biaya dan waktu. Dan ini adalah dengan melakukan bersama-sama keseluruhan proses," kata dia dalam video conference 'Penataan Ekosistem Logistik Nasional' di Jakarta, Kamis, 24 September 2020.

    Ia menambahkan efisiensi biaya logistik ini bisa dicapai dengan pengurusan masalah perizinan delivery order (DO) dan Persetujuan Pengeluaran Peti Kemas (SP2) yang bisa dilakukan secara online dari sebelumnya manual sehingga lebih efisien bagi pelaku usaha.

    "Tadinya manual dengan jam pelayanan terbatas karena harus fisik hadir, sekarang dilakukan online sehingga bisa dilakukan 7x24 jam non stop. Dari hitungan kami, apabila online kita bisa efisiensi hingga Rp402 miliar dan sisi waktu jadi 91 persen jauh efisien," jelas dia.

    Bukan hanya itu, melalui ekosistem ini sekarang proses pemesanan truk dapat dilakukan secara online dari sebelumnya manual. Selain bisa menghemat Rp975 miliar per tahun dan memangkas waktu 50 persen, langkah ini juga dinilai lebih transparan.

    Proses inspeksi pemeriksaan dokumen clearance dan barang kini dilakukan bersama Bea Cukai dan Badan Karantina sehingga menghemat Rp85 miliar dan memangkas waktu 35-56 persen. Kemudian proses pengangkutan untuk bongkar-muat barang hanya melalui single submission sehingga menghemat Rp60 miliar dan memangkas waktu 74 persen.

    "Semua akan ada dalam ekosistem ini tanpa harus melakukan entry atau submission dokumen berulang-ulang, karena pada dasarnya para pelaku ini menggunakan formulir yang sama berkali-kali dan berulang," pungkasnya.  

    (Des)


    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id