Pengusaha Minta Dukungan Modal Usaha

    Ilham wibowo - 11 Juni 2020 19:54 WIB
    Pengusaha Minta Dukungan Modal Usaha
    Ilustrasi mantan Menteri Perdagangan Gita Wirjawan - - Foto: Antara/ Fanny Octavianus
    Jakarta: Mantan Menteri Perdagangan (Mendag) Gita Wirjawan menyebut pengusaha di Indonesia membutuhkan suntikan modal kerja yang cukup besar untuk melewati pandemi covid-19. Modal tersebut dibutuhkan oleh sektor rill baik manufaktur maupun usaha kecil menengah (UKM).

    "Dalam tiga bulan terakhir ini, analisa saya likuiditas sangat terbatas. Paling gampang lihat matriks pertumbuhan kreditnya hanya enam persen tahun lalu walaupun suku bunga secara sistematis turun dalam beberapa tahun terakhir," kata Gita dalam Forum Diskusi Online Indonesia Moving Forward, Kamis, 11 Juni 2020.

    Menurutnya pemerintah bisa menyelamatkan dunia usaha dengan mendorong bank sentral mencetak uang. Instrumen tersebut sebagai alternatif dalam menjawab kebutuhan modal kerja dunia usaha dan masyarakat luas.
     
    "Perkara bagaimana mendatangkan dana itu saya rasa bukan urusan kita, lebih cerminan dari terbatasnya likuiditas di dalam negeri," ujarnya.


    Di sisi lain, likuiditas yang bersumber dari luar negeri juga bisa menajdi alternatif pilihan meski terjadi risiko peningkatan suku bunga.

    "Itu kalau tidak ada pilihan lain kita ambil saja (dari luar negeri). Kalau ada pilihan lain yaitu kemungkinan atau diprospek dengan dicetaknya uang selama suku bunga bisa dijaga, selama moral hazard dijaga, selama inflasi terkendali dan selama depresiasi terkendali," tutur dia.

    Gita pun meyakini cetak uang tidak akan membuat rupiah terdepresiasi. Sebab, Bank Sentral Amerika Serikat juga melakukan pencetakan mata uang dolar besar-besaran.


    "Jangan lupa sekarang 2020 cetak uang oleh The Fed dalam waktu dua bulan itu sudah melebih USD3 triliun, dan saya sampaikan tidak ada alasan rupiah itu tidak menuju Rp12 ribu karena rembes dolar di pasar internasional," paparnya.

    Dalam kesempatan sama, Ketua Kadin Indonesia Rosan Roeslani menyebut industri dalam negeri dapat menghirup udara jangka pendek dengan risiko terbesar pada pertumbuhan negatif. Karena itu, stimulus yang sudah direncanakan pemerintah harus segera diimplementasikan.

    "Tekanan ini makin lama makin besar, input dari temen-temen asosiasi dan pengusaha di daerah mereka hanya mampu bertahan sampai Juli. Sangat berat apabila stimulus ini belum terlaksana implementasinya. Kita tidak bicara size karena implementasi masih terkendala," ungkap dia.

    Rosan membeberkan dunia usaha membutuhkan modal kerja Rp1.600 trilun agar kembali tumbuh dengan maksimal selama enam bulan ke depan. Jumlah tersebut tak bisa digunakan hanya dengan mengandalkan perbankan semata.

    "Kami dari awal sudah bilang stimulus ini harus Rp1.600 triliun dan kami sudah sampaikan sejak Maret akhir dan awal April sudah tulis surat secara resmi kepada Bapak Presiden mengenai usulan kami ini, termasuk stimulus jaring pengaman sosial yang memang juga harus besar," ucap Rosan.

    (Des)


    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id