comscore

Punya Potensi Besar, Kementerian BUMN Minta Industri Asuransi Berbenah Diri

Eko Nordiansyah - 10 September 2021 19:44 WIB
Punya Potensi Besar, Kementerian BUMN Minta Industri Asuransi Berbenah Diri
Wakil Menteri BUMN Kartika Wirjoatmodjo. FOTO: MI/RAMDANI
Jakarta: Kementerian BUMN menyebut potensi bisnis asuransi di Indonesia masih sangat besar. Untuk menggarap potensi tersebut, Kementerian BUMN meminta pelaku industri dan regulator terkait untuk berbenah diri agar bisa semakin berkembang kedepannya.

Sayangnya ada banyak masalah yang mengganggu perkembangan industri asuransi ini. Wakil Menteri BUMN Kartika Wirjoatmodjo mengatakan rendahnya literasi asuransi menjadi salah satu permasalahan di industri asuransi. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat tingkat literasi asuransi baru 19,4 persen pada 2019.
"Memang kami melihat industri asuransi industri yang kompleks karena produk asuransi bukan produk yang mudah dipahami nasabah. Beda dengan perbankan seperti deposito, tabungan yang relatif mudah untuk mendapatkan literasi. Sehingga memang literasinya harus lebih dalam lagi," kata Tiko, sapaan akrabnya, saat FGD dengan MPR, Jumat, 10 September 2021.

Selain literasi yang rendah, ia menilai, masyarakat juga tidak paham untuk mengukur tingkat kesehatan perusahaan asuransi. Menurut Tiko, kemampuan masyarakat untuk bisa membaca kesehatan perusahaan asuransi sangat tergantung transparansi dan akuntansi dari pengawas dalam hal ini OJK.

"Jadi literasi kesehatan asuransi juga penting. Kalau bank relatif lebih mudah dilihat kesehatannya. Tapi asuransi sulit dipahami mana yang sehat dan yang tidak sehat karena tidak ada parameter mudah untuk melihat kesehatan itu," tukasnya.

"Memang ada RBC tapi itu sangat gelondongan, jadi tidak melihat kekuatan asuransi secara detail mulai dari aset, liability, manajemennya, kelayakan investasinya," jelas dia.

Lebih lanjut, masalah lain terkait industri asuransi ini adalah industri yang juga mengalami mis selling karena asuransi diposisikan sebagai investasi. Lebih dari 90 persen portofolio asuransi jiwa sifatnya adalah investasi, bukan sebagai proteksi.

Kemudian, low barrier to entry yang menyebabkan kompetisi yang tidak sehat, belum diterapkannya standar global sebagai acuan baku, tingkat pengawasan yang belum matang, dan tingkat kompetensi teknis yang belum merata, juga menjadi permasalahan di industri asuransi.

"Kami saat membedah Jiwasraya kami kaget sekali karena muncul produk-produk manfaat pasti yang mempunyai guaranteed return 14 persen, 12 persen. Itu tidak akan bisa tercapai, dan nilai tunainya tergerus terus karena selisih antara nilai tunai dan future klaim makin mengecil," ungkapnya.

Untuk itu, ia menyebut, perlu ada reformasi pengaturan dan pengawasan di industri asuransi seperti yang diminta Presiden Joko Widodo beberapa waktu lalu. Hal ini dinilai wajar mengingat pengaturan dan pengawasan industri asuransi tertinggal jauh dengan industri perbankan yang lebih ketat dan transparan.

Oleh sebab itu, Tiko mengungkapkan, pelaku industri sebelum berjualan harus memperhatikan strategi produk dan jenis produk, manajemen risiko, persaingan harga yang sehat dan pengembangan SDM. Di sisi lain regulator juga perlu mengatur market healthiness dan market competition.

Saat ini Kementerian BUMN membentuk holding asuransi dan penjaminan yakni Indonesia Financial Group (IFG) terdiri dari PT Jasa Raharja, PT Jaminan Kredit Indonesia (Jamkrindo), PT Asuransi Kredit Indonesia (Askrindo), PT Jasa Asuransi Indonesia (Jasindo), PT Bahana Sekuritas, PT Bahana TCW Investment Management, PT Bahana Artha Ventura, PT Bahana Kapital Investama dan PT Graha Niaga Tata Utama.

"Pembentukan model bisnis IFG berkaca pada asuransi asing dimana mereka melakukan dua lapis atau layer governance guna memenuhi check and balance. Kami mendesain dari awal bahwa kewenangan holding cukup dalam. Produk pricing, manajemen risiko, aset, dan liabilitas juga dimonitor oleh holding," ujar dia.

Indikasi awal menunjukkan perubahan yang positif pada anggota holding asuransi dan penjaminan tersebut. Sebut saja review atas praktik akuntansi dan aktuaria menunjukan kekurangan pencadangan teknis yang signifikan terutama pada line of business asuransi kredit.

"Kemudian realignment fokus bisnis mengurangi persaingan yang tidak sehat antar anggota holding. Dan transformasi bisnis model termasuk eliminasi pihak ketiga terhadap bisnis kumpulan yang recurring meningkatkan profitabilitas perusahaan," tutupnya.

(ABD)

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

 

 

 

Komentar

LOADING
Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

  1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
  2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
  3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
  4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

Anda Selesai.

Powered by Medcom.id