comscore

Kebijakan G20 Harus Pro Investasi

Husen Miftahudin - 10 Maret 2022 13:48 WIB
Kebijakan G20 Harus Pro Investasi
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo dalam Presidensi G20 - - Foto: dok Panitia Nasional Presidensi G20 Indonesia
Jakarta: Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo menekankan kebijakan G20 harus mendukung produktivitas, investasi, penguatan pasar tenaga kerja, dan relokasi modal. Hal ini sebagai langkah mitigasi atas dampak pandemi covid-19 yang berkepanjangan.

"Aktivitas perekonomian yang mulai pulih pascapandemi masih menyisakan bekas luka (scarring effect) jangka menengah panjang yang perlu diantisipasi," ucap Perry dalam side events G20 secara virtual, dikutip Kamis, 10 Maret 2022.
Perry mengungkapkan pandemi covid-19 berimbas pada produktivitas dengan adanya tantangan pada pasar tenaga kerja dan pendidikan. Termasuk pada investasi maupun sektor swasta, terutama pada sektor transportasi dan pariwisata.

Selain itu, pandemi juga mengakibatkan terjadinya disrupsi pasar tenaga kerja seperti pengangguran seketika akibat pandemi, serta penurunan produktivitas akibat perubahan metode pendidikan sekolah. Pandemi juga menimbulkan efek lanjutan masalah pengangguran tersebut seperti kesehatan, masalah sosial, hingga stabilitas politik.

Dalam hal ini, Perry menjabarkan solusi penanganan dalam mengutamakan investasi healthcare dan produksi vaksin sebagai penanganan pandemi, investasi pada infrastruktur digital guna meningkatkan produktivitas kerja dan pendidikan, memaksimalkan kemampuan digital pada pelajar dan pekerja, menggiatkan investasi sektor strategis, serta dukungan pada masa transisi yakni peningkatan keterampilan kaum wanita dan pemuda.

Lebih lanjut, pariwisata juga perlu menjadi prioritas penanganan mengingat sektor tersebut merupakan pilar ekonomi global yang melibatkan pemuda, wanita, serta sektor informal. Guncangan tersebut turut berdampak pada masalah fiskal dan risiko kredit.

"Sektor pariwisata menjadi industri yang paling terluka oleh scarring effect tersebut. Tercatat guncangan koreksi pertumbuhan sektor pariwisata global sebesar 11 persen, lebih dalam dibanding sektor lainnya sebesar 6,4 persen," terangnya.

Untuk penanganannya, terdapat sejumlah inovasi seperti promosi pariwisata domestik, eco-tourism, inovasi teknologi, serta mengaitkan pariwisata dengan sektor lainnya seperti agrikultur dan pengembangan produk ekspor.

"Pemulihan sektor pariwisata juga bergantung pada kebijakan suatu negara terhadap mobilitas wisatawan yang dikaitkan dengan isu kesehatan," tegas Perry.

Bos BI tersebut pun terus berupaya untuk mendorong akselerasi pertumbuhan ekonomi yang inklusif. Untuk prioritas penanganan scarring effects, antara lain perlu dilakukan relokasi tenaga kerja untuk mengurangi pengangguran dan mendukung keahlian baru, relokasi modal dan dukungan investasi, peningkatan inklusi dan literasi digital melalui pemanfaatan teknologi, serta penanganan dan pencegahan pandemi yang menjadi hal krusial.

"Korporasi perlu menyusun ulang strategi bisnis, struktur keuangan, manajemen, dan ketahanan melalui digitalisasi untuk terus melangkah. Perbankan juga perlu menilik kembali penyaluran kredit ke sektor prioritas dan kredit modal kerja bagi ekspansi bisnis," pungkas Perry.


(Des)

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

 

 

 

Komentar

LOADING
Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

  1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
  2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
  3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
  4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

Anda Selesai.

Powered by Medcom.id