Pemerintah Diminta Tindak Tegas Perusahaan Penimbun Gula

    Eko Nordiansyah - 30 April 2021 14:17 WIB
    Pemerintah Diminta Tindak Tegas Perusahaan Penimbun Gula
    Ilustrasi penimbunan gula rafinasi - - Foto: MI/ Susanto



    Jakarta: Pemerintah diminta menindak tegas perusahaan yang melakukan penimbunan gula. Ini setelah ditemukan puluhan ribu ton stok gula kristal putih (GKP) dan gula rafinasi di gudang milik sebuah perusahaan di Lamongan oleh Satuan Tugas (Satgas) Pangan Jawa Timur (Jatim).

    Dari hasil inspeksi mendadak (sidak) yang dilakukan Satgas Pangan Jatim, ditemukan 15 ribu ton gula rafinasi dan 22 ribu ton gula kristal putih di gudang perusahaan pengolah gula ini. Terlebih penemuan ini terjadi di saat munculnya isu kelangkaan gula di Jatim.






    Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Nailul Huda mengatakan pemerintah harus memberikan efek jera kepada perusahaan yang melakukan aksi penimbunan. Apalagi aksi ini dilakukan saat kebutuhan gula meningkat saat Ramadan menjelang Lebaran.

    "Kalau sanksi pidana mungkin disesuaikan dengan hukum yang berlaku. Tapi kalau dari sisi ekonomi pencari rente impor komoditas ini sudah selayaknya dicabut izin perusahaan dan didenda," kata dia kepada wartawan di Jakarta, Jumat, 30 April 2021.

    Ia menambahkan munculnya aksi penimbunan tersebut dipicu oleh permasalahan gap harga antara gula dalam negeri dengan gula impor. Menurut dia, harga gula dari impor bisa setengah dari harga dalam negeri yang memiliki HET Rp12.500 per kg.

    "Dengan menghitung asumsi biaya transport dan pengiriman, minimal importir gula bisa mendulang keuntungan sebesar Rp2 ribu per kg. Dengan impor gula yang mencapai tiga juta ton, maka keuntungannya bisa mencapai Rp6 triliun," ungkapnya.

    Selain itu, masalah harga gula yang dipatok lewat HET sebesar Rp 12.500 per kg ternyata bisa mencapai lebih dari Rp15.000 per kg. Semakin tinggi harga di domestik, maka semakin tinggi pula keuntungan importir atau distributor gula ini.

    "Makanya perusahaan-perusahaan tersebut enggan membeli tebu dari petani dan memproduksi gula dalam negeri, toh keuntungan dari impor sangat besar. Jadi mereka sengaja menimbun saja untuk menaikkan harga. Semakin cuan juga mereka," pungkas dia.

    (Des)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id