Pemerintah Bidik Interkoneksi Listrik di Kalimantan dan Sulawesi Rampung 2024

    Antara - 05 Oktober 2021 16:12 WIB
    Pemerintah Bidik Interkoneksi Listrik di Kalimantan dan Sulawesi Rampung 2024
    Ilustrasi. Foto: dok MI/Adi Maulana Ibrahim.



    Jakarta: Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif mengatakan interkoneksi listrik di Kalimantan dan Sulawesi akan terwujud dalam tiga tahun mendatang.

    Interkoneksi ketenagalistrikan tersebut akan meningkatkan keandalan listrik, baik di dalam pulau maupun antarpulau serta mendorong penetrasi energi baru terbarukan.

     



    "Pada 2024 diharapkan interkoneksi di Pulau Kalimantan dan Sulawesi sudah terwujud sebagai bagian dari rencana pemerintah untuk interkoneksi seluruh pulau besar, yaitu Sumatra, Jawa, Kalimantan, dan Sulawesi," ujarnya dalam keterangan resmi, Selasa, 5 Oktober 2021.

    Arifin mengungkapkan saat pemerintah sedang melakukan kajian untuk interkoneksi antarpulau atau disebut Super Great yang akan menghubungkan antara pulau besar di Indonesia. Program interkoneksi ini juga dapat mengatasi adanya oversupply dari sistem kelistrikan besar.

    Interkoneksi Sumatra ke Malaysia sudah dijadwalkan untuk beroperasi secara komersial atau commercial operation date (COD) pada 2030. Sedangkan untuk interkoneksi dari Sumatra ke Singapura masih dalam kajian, khususnya ekspor energi listrik yang bersih ke negara tersebut.

    Direktur Utama PLN Zulkifli Zaini mengatakan beberapa pembangkit program 35 gigawatt yang telah direncanakan sejak 2015 akan segera beroperasi.

    "Hal ini akan berpotensi terjadinya oversupply karena pasokan listrik yang tersedia dalam jumlah besar dengan demand yang rendah," terang Zulkifli.

    Adapun PLN telah menyiapkan enam langkah strategis dalam dalam upaya mengurangi risiko atau dampak kelebihan pasokan listrik tersebut.

    Pertama, peningkatan permintaan dengan program pemasaran yang agresif, seperti kompor induksi, kendaraan listrik, hingga electrifying agriculture yang menyasar sektor pertanian.

    Kedua, perseroan mendorong pemerintah untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi agar dapat meningkatkan demand listrik serta menciptakan demand baru di kawasan industri, kawasan ekonomi khusus, destinasi wisata prioritas, hingga destinasi pariwisata super prioritas.

    Ketiga, meminimalkan penambahan kapasitas infrastruktur baru. Keempat, melaksanakan relokasi pembangkit PLTG, PLTGU ke daerah-daerah yang membutuhkan untuk meminimalkan biaya investasi dan meningkatkan utilisasi aset.

    Kelima, melaksanakan negosiasi penyesuaian jadwal baik itu kepada Independent Power Producer (IPP) pembangkit maupun penyedia bahan bakar.

    Keenam melaksanakan program co-firing yang tidak memerlukan biaya pembangunan pembangkit baru dan hanya mengoptimalkan biaya harga biomassa, sehingga risiko oversupply dapat dihindari sejalan dengan meningkatkan bauran energi baru terbarukan.

    (Des)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id