comscore

Munas Kadin Jadi Momen Bangkitkan Kembali Aspal Buton

Husen Miftahudin - 02 Juni 2021 13:16 WIB
Munas Kadin Jadi Momen Bangkitkan Kembali Aspal Buton
Ilustrasi. Foto: MI/Halim Agil
Jakarta: Musyawarah Nasional (Munas) VIII Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia dipastikan digelar di Kendari, Sulawesi Tenggara pada 30 Juni 2021. Pemerintah daerah beserta para pelaku usaha dan industri berharap penyelenggaraan Munas Kadin ini dapat menjadi momentum untuk membangkitkan kembali aspal buton.

"Gubernur dan kami ingin dengan momen Munas yang dihadiri Presiden, kami ingin launching yang namanya aspal Buton. Itu saja target kita, karena ini adalah satu-satunya harta kekayaan bangsa Indonesia yang belum diproduksi massal," kata Ketua Umum Kadin Sultra Anton Timbang dalam keterangan resminya, Rabu, 2 Juni 2021.
Anton risih mengingat kebutuhan aspal nasional yang begitu besar namun malah mengimpor dari Singapura. Padahal aspal lokal, aspal Buton, punya potensi kualitas dan kuantitas yang tinggi sehingga dapat memenuhi kebutuhan nasional.

"Momentum inilah yang kita ingin ambil pada saat Munas. Jadi tidak ada tendensi lain persoalan dukung mendukung karena, itu sudah jauh hari kami targetkan sebelum ada deklarasi calon," tegasnya.

Anton berharap para pengurus dan anggota Kadin yang hadir pada saat Munas tertarik untuk berinvestasi mengembangkan aspal Buton. Apalagi di sisi lain akan dibangun Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) aspal di Buton.

"Lewat Munas ini kan seluruh pengusaha besar Indonesia hadir, menterinya hadir, presidennya hadir. Nah momen ini yang harus dijelaskan. Jadi di sini ada pemerintah bagian regulasi, dan ada kontraktor eksekutornya untuk bagaimana produksi ini barang (aspal)," tutur dia.

Anton menjelaskan bahwa aspal alam hanya ditemukan di Trinidad dan Buton, di luar itu hanya aspal minyak. Cadangan aspal di Trinidad diperkirakan akan habis dalam waktu 20 tahun, sedangkan cadangan aspal Buton butuh waktu 360 tahun dengan perkiraan produksi satu juta per tahun.

Dia berharap aspal Buton dapat digunakan secara maksimal, baik untuk infrastruktur jalan di wilayah Sulawesi Tenggara maupun untuk nasional. Sehingga, kebutuhan aspal nasional tak lagi diimpor.

Realitasnya, saat ini Indonesia mengimpor 1,3 juta sampai 1,4 juta ton aspal per tahun yang menguras cadangan devisa negara sebanyak Rp40 triliun hingga Rp46 triliun. Padahal, seluruh kebutuhan itu dapat dipenuhi dari dalam negeri sendiri bila aspal Buton dimaksimalkan.

Anton menyebutkan, sekarang yang menggunakan aspal Buton ini hanya Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, dan Sulawesi Tenggara. Namun jumlah penggunaannya pun terbatas, padahal soal kualitas aspal Buton jauh lebih baik dibandingkan dengan aspal cair.

Ia mengaku, produksi aspal Buton perlu didorong. Salah satu pendorong produksi dan permintaan aspal Buton adalah dengan investasi.

"Tadinya saya ingin mengajak untuk membangun pabrik (aspal) di daerahnya masing-masing. Tapi kalau KEK ini ada, maka saya mengajak ayo investasi ke Buton, bangun pabrikmu di situ, nanti hasil produksinya baru kirim ke daerah lain," ucap Anton.

Sementara itu, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sulawesi Tenggara menyambut baik penyelenggaraan Munas Kadin VIII. Perhelatan akbar ini diharapkan mampu mengembangkan potensi pariwisata provinsi berupa pengembangan kawasan investasi wisata yang potensial sekaligus memulihkan ekonomi daerah.

Kepala Dinas Pariwisata Sultra La Ode Saifuddin menyebut sejumlah kawasan wisata potensial seperti di Padamarang (Kolaka), Labengki (Konawe Utara), Pulau Towea (Muna), Tiworo Kepulauan (Muna Barat), Pantai Koguna (Buton), Pantai Mutiara (Buton Tengah), dan masih ada beberapa pantai indah di Pulau Buton seperti Liwutongkidi, Pantai Lakadao, dan lainnya. Selain itu, saat ini sedang dilakukan percepatan pembangunan infrastruktur Kawasan Strategis Pariwisata (KSP) Toronipa dan sekitarnya.

Dengan demikian, peluang investasi yang ada adalah pembangunan hotel, resort, gedung convention standard internasional (kapasitas 10 ribu orang), restoran/pusat kuliner, pusat oleh-oleh cinderamata, kapal wisata rekreasi (LOB) Live on Board, agro wisata, dan sarana hiburan di kawasan wisata.

"Ada beberapa faktor pendukung yang dapat menarik investasi di sektor pariwisata yakni sumber daya pariwisata seperti atraksi wisata utama bahari dan atraksi wisata pendukung yang tersedia melimpah (pantai, pulau-pulau kecil, budaya). Kemudian akses tersedia lima bandara, kemudahan perizinan, tersedianya tenaga kerja pariwisata, dan dukungan pemerintah untuk menyiapkan infrastruktur ke destinasi," pungkas La Ode Saifuddin.

(DEV)

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

 

 

 

Komentar

LOADING
Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

  1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
  2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
  3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
  4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

Anda Selesai.

Powered by Medcom.id