Kejar Target Pembangunan Nasional, Pemerintah Tekan Stunting dengan Imunisasi

    Suci Sedya Utami - 14 Juni 2021 19:06 WIB
    Kejar Target Pembangunan Nasional, Pemerintah Tekan <i>Stunting</i> dengan Imunisasi
    Ilustrasi. Foto: Medcom.id



    Bali: Pemerintah berkomitmen untuk menekan angka stunting atau kurang gizi pada balita di Indonesia, salah satunya dengan mendorong bayi dan balita di Indonesia untuk berpartisipasi aktif dalam program imunisasi dasar lengkap.

    Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN) atau Kepala Bappenas Suharso Monoarfa mengatakan, stunting merupakan salah satu indikator yang perlu mendapat perhatian khusus dalam mencapai target pembangunan yang tertuang dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020-2024.

     



    "Terkait imunisasi dasar lengkap, dalam kunjungan, kalau saya tanya banyak kepala daerah tidak aware, tidak memberi perhatian. Untuk itu, perlu sosialisasi gencar dan studi mengatakan kalau bayi mendapatkan imunisasi dasar lengkap dengan baik, maka peluangnya terkena stunting semakin rendah," kata Suharso dalam rapat tingkat menteri yang membahas pentingnya pembangunan nasional di bidang kesehatan di Bali, Senin, 14 Juni 2021.

    Berdasarkan hasil survei status gizi balita pada 2019, prevalensi stunting Indonesia tercatat sebesar 27,67 persen. Angka itu masih di atas standar yang ditetapkan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) bahwa prevalensi stunting di suatu negara tidak boleh melebihi 20 persen.

    Beberapa indikator lainnya yang juga perlu mendapat perhatian khusus, antara lain cakupan kepesertaan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), cakupan penerima bantuan iuran JKN, angka kematian ibu, obesitas, imunisasi dasar lengkap, prevalensi merokok penduduk usia 10-18 tahun, dan Puskesmas dengan jenis tenaga kesehatan sesuai standar.

    Deputi Bidang Pembangunan Manusia, Masyarakat Bappenas, Subandi Sardjoko, mengatakan untuk angka kematian terdapat dua penyebab utama yakni penyakit menular dan tidak menular. Untuk penyakit tidak menular seperti jantung, stroke, dan diabetes menjadi kontributor tertinggi penyebab kematian. Sedangkan penyakit menular yang menjadi penyebab kematian tertinggi yakni tuberculosis (TB) serta diare pada anak.

    "Ada pula kematian akibat kecelakaan. Ini perlu mendapat perhatian bagaimana kita bisa menangani penyakit ini sehingga tingkat kematian kita turunkan," kata Subandi.

    Beberapa isu lain yang menjadi fokus rapat yakni upaya menurunkan prevalensi merokok usia anak dengan menyusun simulasi peningkatan cukai rokok, hingga cakupan kepesertaan JKN yang masih rendah yaitu 82,07 persen dan penerima bantuan iuran JKN yang mencapai 96,8 juta jiwa dengan tingkat akurasi sekitar 57 persen.

    Untuk itu, keakuratan Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS) diperlukan agar intervensi pemerintah dalam penyaluran bantuan tepat sasaran.

    (DEV)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id