Tekan Bahan Baku Impor, Kemenperin Perkuat Rantai Pasok Industri Refraktori

    Husen Miftahudin - 15 Juni 2021 15:15 WIB
    Tekan Bahan Baku Impor, Kemenperin Perkuat Rantai Pasok Industri Refraktori
    Ilustrasi industri refraktori - - Foto: Medcom/ Yurike Budiman



    Jakarta: Kementerian Perindustrian (Kemenperin) terus memperkuat rantai pasok industri refraktori agar memiliki daya saing di kancah domestik maupun global. Sebab, industri refraktori merupakan sektor padat modal yang bahan baku lokalnya perlu dioptimalkan seiring dengan implementasi kebijakan substitusi impor.

    "Kebijakan pengembangan sektor industri pengolahan difokuskan pada penguatan rantai pasok untuk menjamin ketersediaan bahan baku serta energi yang berkesinambungan dan terjangkau sesuai amanat dalam Undang-Undang (UU) Nomor 3 Tahun 2014 tentang Perindustrian," kata Direktur Jenderal Industri Kimia, Farmasi, dan Tekstil (IKFT) Muhammad Khayam dalam siaran persnya, Selasa, 15 Juni 2021.

     



    Menurut Khayam, industri refraktori merupakan salah satu sektor strategis karena produksinya dapat menopang kebutuhan berbagai manufaktur lainnya. "Hasil dari industri refraktori ini umumnya digunakan sebagai pelapis untuk tungku, kiln, insinerator, dan reaktor tahan api pada industri semen, keramik, kaca, dan pengecoran logam," tuturnya.

    Ia juga optimistis, apabila industri refraktori ini tumbuh berkembang dan memiliki performa gemilang, maka akan mendukung kinerja sektor industri pengolahan nonmigas, khususnya kelompok industri bahan galian nonlogam.

    "Pada kuartal I-2021, kontribusi industri bahan galian nonlogam terhadap industri pengolahan sebesar 2,57 persen dan perkembangan nilai investasi industri bahan galian nonlogam mencapai Rp5,46 triliun," papar dia.


    Melihat potensi tersebut, Khayam menegaskan, pihaknya bertekad untuk menciptakan iklim usaha yang kondusif melalui penerapan berbagai program dan kebijakan yang tepat sasaran. Tujuannya agar geliat sektor industri di Tanah Air dapat kembali bergairah di tengah gempuran dampak pandemi covid-19.

    "Langkah yang perlu diakselerasi, antara lain mewujudkan rantai pasok industri refraktori yang solid dan mengoptimalkan tingkat kandungan dalam negeri (TKDN). Hal ini nantinya dapat membantu tercapainya target substitusi impor 35 persen pada 2022," imbuhnya.

    Saat ini, kebutuhan nasional terhadap produk refraktori mencapai 200 ribu sampai 250 ribu ton per tahun. Sementara itu, industri dalam negeri memasok kebutuhan tersebut sebesar 88 ribu ton per tahun. "Industri refraktori merupakan industri padat modal yang membutuhkan bahan baku dari sumber daya alam," pungkas Khayam.

    (Des)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id