Strategi Gaet Wisatawan Australia di Era New Normal

    Nia Deviyana - 01 Agustus 2020 15:20 WIB
    Strategi Gaet Wisatawan Australia di Era New Normal
    Ilustrasi wisatawan mancanegara (wisman) - - Foto : MI/ Rommy Pujianto
    Jakarta: Industri pariwisata mendapat harapan baru setelah perekonomian nasional kembali dibuka. Namun, tren berlibur di era normal baru wajib menerapkan protokol kesehatan agar pemulihan ekonomi Indonesia tidak sia-sia.

    Direktur Pemasaran Pariwisata Regional I (Indonesia, ASEAN, dan Oseania) Kementerian Pariwisata & Ekonomi Kreatif Republik Indonesia, Vinsensius Jemandu mengatakan, wisatawan Australia memiliki peluang paling besar untuk kembali melancong ke Tanah Air. Hal ini mengingat jarak Indonesia dan negara Kangguru tersebut cukup dekat.

    "Kita dapat membangun strategi yang kuat dan bermakna untuk menyambut para wisatawan Australia ke Indonesia. Kami tahu bahwa cepat atau lambat, turis Australia akan datang ke Indonesia, tetapi kami sangat berharap semakin cepat semakin baik," ujarnya dalam keterangan resmi, Sabtu, 1 Agustus 2020.

    Apalagi tren berwisata global di era new normal lebih mengedepankan konsep kelompok kecil dibandingkan dalam bentuk rombongan. "Hal ini mungkin akan menjadi tren pariwisata global, yang mana mereka akan bepergian dalam grup yang kecil," tambahnya.

    Senada dengan Vinsensius, Manajer Produk Asia Tenggara Intrepid Tom McDonald menuturkan, tren pariwisata di era new normal layaknya petualangan dengan melihat dunia tanpa keramaian. Jenis pariwisata tersebut akan fokus pada perjalanan yang kaya akan pengalaman dan jarang dilalui banyak orang.

    "Jadi sellers Indonesia harus memungkinkan menjual produk dan layanan mereka pada pasar Australia dengan memenuhi standar kesehatan dan keselamatan, keberlanjutan, dan perjalanan yang bertanggung jawab, dan layak dengan biaya yang dikeluarkan," tukasnya.

    Sementara itu, Editor Lifestyle Urban List Morgan Reardon mengatakan terjadi perubahan nilai dan perilaku orang Australia selama covid-19. Tercatat 82 persen orang Australia berpikir tidak akan tinggal di tempat lain, dan 51 persen memiliki kebanggaan sebagai orang Australia.

    Namun, hampir 45 persen warga Australia siap melakukan perjalanan antarnegara jika perbatasan dibuka kembali. Itu berarti Australia memprioritaskan menjelajahi halaman belakang mereka sendiri, tetapi Gen Z memiliki selera terbesar untuk pergi ke luar negeri.

    "Jadi, kemana mereka akan pergi? Bagi orang Australia saat ini adalah Selandia Baru, tetapi Bali juga menjadi topik pembicaraan mereka. Sebagai kesimpulan, wisatawan Australia pasca covid-19 masih mencari petualangan, mereka pecinta makanan, masih memiliki hasrat besar untuk bepergian dan mereka punya uang tunai untuk dibelanjakan," jelasnya.

    Pada kesempatan yang sama, Visit Indonesia Tourism Officer (VITO) Australia Miriam Tulevski mengatakan Australia berada di tengah gelombang kedua covid-19 dengan jumlah kasus hampir 15 ribu orang. Karena itu, Australia Barat menutup aksesnya. Padahal wilayah tersebut merupakan sumber wisatawan terbesar untuk Bali dengan jumlah mencapai 500 ribu pengunjung per tahun.

    "Dalam hak konektivitas, saat ini hanya Garuda Indonesia yang terbang ke Indonesia, mereka melakukannya dari Perth, Sydney, Melbourne dan hanya ke Jakarta setiap 2 minggu. Di Australia, ada Virgin Australia yang akan fokus pada penerbangan domestik," pungkasnya.



    (Des)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id