Saran Eks Menteri BUMN Stabilisasi Harga Sembako

    Husen Miftahudin - 18 Mei 2020 20:57 WIB
    Saran Eks Menteri BUMN Stabilisasi Harga Sembako
    Sembako. Foto : Medcom/Surya Perkasa.
    Jakarta: Sejumlah mantan Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) turut berkomentar soal stabilisasi harga sembako. Menteri BUMN periode 2011-2014 Dahlan Iskan menyarankan agar harga-harga sembako diatasi secara makro dengan melibatkan seluruh pemangku kepentingan.

    "Harga telur dan harga macam-macam ini menurut saya lebih baik diatasi secara makro oleh kebijakan ekonomi nasional," ujar Dahlan dalam sebuah diskusi daring di Jakarta, Senin, 18 Mei 2020.

    Pada kesempatan yang sama Menteri BUMN periode 1998-1999 Tanri Abeng mengusulkan agar persoalan harga sejumlah kebutuhan bahan pokok dilakukan dengan mengintensifkan koordinasi antarinstitusi yang bertanggung jawab terhadap hal tersebut. Dalam ini perlu pembenahan secara akuntabilitas.

    Tanri berkaca pada saat dirinya ditunjuk oleh Presiden Bacharuddin Jusuf Habibie untuk menstabilkan harga bahan-bahan pokok. Prosesnya teknikal, namun ia meyakinkan bahwa dalam hal menstabilisasi harga perlu upaya pembenahan secara akuntabilitas.

    "Pernah terjadi di 1998 itu harga minyak goreng meningkat dari Rp3.000 ke Rp7.000 per liter. Saya ambil tanggung jawab itu dan tidak ada orang yang bisa ikut campur, tidak ada orang yang mempengaruhi saya untuk mengambil keputusan. Akhirnya minyak goreng dalam jangka waktu tiga minggu kembali harganya ke Rp3.000. Yang ingin saya katakan adalah prosesnya harus accountable," tegasnya.

    Selepasnya, Tanri sempat mengusulkan agar Perum Bulog (Persero) diberi akuntabilitas oleh pemerintah untuk mengurus semua bahan-bahan pokok, baik dari sisi pasokan maupun harganya. Dalam hal ini peran Bulog paling vital karena bertanggung jawab lasing kepada presiden.

    "Dengan demikian akuntabilitasnya jelas di Bulog, bukan di (Menteri) Perdagangan bukan juga di Mensos (Menteri Sosial). Itu akuntabilitas, ini aspek manajemen sebenarnya," tukas Tanri.

    Sejumlah harga bahan-bahan pokok mulai mengalami kenaikan pada saat Ramadan hingga menjelang Lebaran. Gula pasir misalnya, harga di tingkat konsumen saat ini mencapai Rp19 ribu per kilogram.

    Berdasarkan data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis Nasional (PIHPS), harga rata-rata gula pasir nasional hingga Jumat, 15 Mei 2020, sudah mencapai Rp17.400 per kilogram (kg). Harga tersebut lebih tinggi dibandingkan harga acuan tingkat konsumen sebesar Rp12.500 per kg.

    Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto sebelumnya mengatakan pihaknya telah menugaskan Satgas Pangan untuk menindak tegas oknum yang sengaja mempermainkan harga gula pasir di tengah pandemi covid-19.

    Menteri Perdagangan (Mendag) Agus Suparmanto juga telah mengingatkan masyarakat untuk berani melaporkan ke Satgas Pangan jika menemukan distributor dan pedagang yang menjual gula pasir dengan harga sangat tinggi.



    (SAW)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id