India Lockdown, Indonesia Perlu Diversifikasi Impor Gula

    Antara - 02 April 2020 14:39 WIB
    India <i>Lockdown</i>, Indonesia Perlu Diversifikasi Impor Gula
    Pemerintah Indonesia dinilai perlu melakukan diversifikasi negara tujuan impor gula terkait pemberlakuan karantina wilayah (lockdown) oleh Pemerintah India. Foto: MI/Susanto
    Jakarta: Peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Felippa Ann Amanta menilai pemerintah Indonesia perlu melakukan diversifikasi negara tujuan impor gula terkait pemberlakuan karantina wilayah (lockdown) oleh Pemerintah India.

    Felippa mengatakan pemerintah perlu mengambil langkah strategis dalam memenuhi kebutuhan gula domestik, terutama untuk menjaga kestabilan harga di masa pandemi korona atau covid-19.

    "Untuk itu, pemerintah diharapkan sudah memiliki pemetaan mengenai negara-negara penghasil gula selain India untuk dijadikan alternatif tujuan impor," kata Felippa seperti dilansir dari Antara, Kamis, 2 April 2020.

    Melonjaknya harga gula di Indonesia sejak awal 2020 diharapkan bisa teratasi dengan masuknya gula impor dari India. Namun hingga kini, impor gula sebanyak 550 ribu ton yang diharapkan bisa memenuhi kebutuhan domestik hingga Juli 2020 belum juga terealisasi.

    Menurut dia, harga dikhawatirkan akan semakin bertambah menjelang Ramadan dan Idulfitri, karena permintaan gula selalu meningkat.

    Berdasarkan data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis Nasional (PIHPS), harga rata-rata gula pasir nasional hingga Kamis, 2 April ini sudah mencapai Rp18.350 per kilogram (kg). Harga tersebut lebih tinggi dibandingkan harga acuan tingkat konsumen sebesar Rp12.500 per kg.

    Adapun Indonesia mengimpor gula dari India sebagai bentuk pertukaran dengan ekspor kelapa sawit. Selain dari India, ada beberapa negara lain yang selama ini menjadi pemasok gula.

    Badan Pusat Statistik mencatat bahwa di 2018, Thailand menjadi pemasok impor gula terbesar Indonesia dengan volume impor mencapai 4,04 juta ton atau sebesar 80,29 persen dari total volume impor gula Indonesia.

    Impor gula dari Thailand didukung faktor produksi gula Thailand yang jauh lebih produktif dari Indonesia. Berdasarkan data FAO, produksi tebu Thailand dapat mencapai 76 ton per hektare (ha) hingga menghasilkan 104 juta ton. Sementara Indonesia hanya mencapai 52 ton per ha dengan total hasil 2,17 juta ton.

    Thailand disusul oleh Australia yang menyumbang 922,9 ribu ton gula atau 18,35 persen total volume impor. Australia juga lebih produktif dengan 75 ton per ha. Sementara itu, Brasil yang merupakan penghasil dan pengekspor tebu terbesar di dunia hanya menyumbang 1,19 persen total volume impor Indonesia, yaitu sebanyak 60 ribu ton.

    "Ketika perdagangan dengan India terhambat, negara-negara ini dapat dipertimbangkan menjadi rekan perdagangan lain," kata Felippa.

    Ia juga mendorong pemerintah untuk memberikan relaksasi kebijakan impor gula, sebagaimana yang sudah dilakukan pada kebijakan impor produk hortikultura melalui pembebasan Rekomendasi Impor Produk Hortikultura (RIPH) dan Surat Perizinan Impor (SPI).



    (DEV)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id