Kesepakatan Chevron dengan Eni untuk Proyek IDD Mundur

    Suci Sedya Utami - 28 April 2021 22:15 WIB
    Kesepakatan Chevron dengan Eni untuk Proyek IDD Mundur
    Deputy Managing Director Chevron IndoAsia Business Unit Wahyu Budiarto. Foto: Medcom.id/Suci Sedya Utami



    Jakarta: Penyelesaian negosiasi mengenai peralihan pengembangan proyek migas Ultra Laut Dalam (Indonesia Deepwater Development/IDD) antara PT Chevron Pacific Indonesia (CPI) dan Eni S.p.A mundur.

    Deputy Managing Director Chevron IndoAsia Business Unit Wahyu Budiarto mengatakan penundaan penyelesaian disebabkan pandemi covid-19.

     



    "Yang kita hadapi tadinya sudah bisa jalan bagus negosiasnya, eh tiba-tiba pandemi ini harga drop sekali, mereka (Eni) kok jadi agak mundur," kata Budi di sela kunjungannya ke kantor Media Group, Selasa, 27 April 2021

    Budi mengatakan ada banyak calon kontraktor kontrak kerja sama (KKKS) yang berminat untuk menggarap proyek tersebut. Hanya saja, Eni dinilai paling pas karena telah memiliki fasilitas penunjang yang membuat biaya pengembangan lapangan akan bagus secara keekonomian.

    Sementara KKKS lainnya apabila masuk dalam proyek ini maka harus membangun fasilitas dari awal. Hal ini pula yang membuat Chevron tidak ingin melanjutkan proyek tersebut.

    Sebab, kata Budi, secara keekonomian proyek ini menguntungkan, namun keuntungannya kecil apabila harus membangun fasilitas dari awal. Ia bilang bagi Chevron yang investasinya terbatas di dunia, proyek ini tidak bisa bersaing dengan yang lainnya. Apabila tidak bisa bersaing, maka tidak bisa mendapatkan modal dari induk usaha untuk mengembangkannya.

    "Kita lihat ada pihak yang pas karena mereka (Eni) punya fasilitas di sana. Mereka punya Jangkrik dan Marakes, tinggal ngebor sumur ditarik sehingga secara logika pasti bisa masuk hitungannya, bagi mereka akan bisa mendapatkan gas yang jauh lebih murah. Kalau kami harus bangun fasilitas, terus ngebor sumur," jelas Budi.

    Sebelumnya Kepala atuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) Dwi Sutjipto berharap agar peralihan tersebut bisa selesai di akhir 2020, sehingga nantinya kontraktor baru bisa mengajukan revisi proposal rencana pengembangan (POD) proyek tersebut.

    Dwi mengatakan apabila Eni nantinya mengambil alih wilayah kerja IDD maka akan lebih baik. Sebab, akan bisa terintegrasi dengan fasilitas migas yang dikelola Eni di Blok Muara Bakau dan juga lapangan migas Marrakesh di Blok Sepinggan. Integrasi ini tentunya akan menciptakan biaya yang lebih efisien.
     
    "Kami percaya jika alih kelola oleh Eni akan lebih baik dan efisien karena Eni sudah memiliki fasilitas untuk diintegrasikan dengan IDD," ujar Dwi.

    Proyek IDD merupakan salah satu proyek strategis nasional (PSN) yang menjadi fokus perhatian pemerintah untuk dapat segera diwujudkan. Oleh karenanya, pembahasan lanjutan antara Wakil Negara RI dan manajemen tertinggi Chevron ini perlu dilakukan untuk dapat memastikan penanganan proyek IDD sesuai harapan tersebut.
     
    Dari data SKK Migas, proyek IDD bisa berproduksi hingga 1.120 juta kaki kubik per hari (mmscfd) gas dan minyak 40 ribu barel per hari (bph). Proyek ini sedianya akan beroperasi pada kuartal I-2024.

    (DEV)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id