Pandemi Covid-19, Kadin Minta Indonesia Perluas TCA dengan Banyak Negara

    Arif Wicaksono - 19 November 2020 15:34 WIB
    Pandemi Covid-19, Kadin Minta Indonesia Perluas TCA dengan Banyak Negara
    Pandemi Covid-19. Foto : AFP.
    Jakarta: Di luar hambatan tarif dan nontariff, pandemi covid-19 juga menghambat perdagangan ekspor-impor antar negara akibat kebijakan pembatasan lalu lintas manusia. Pembatasan ini karena setiap negara memproteksi dari kedatangan wisman dari negara lain.

    Pada 26 Oktober 2020, pemerintah Indonesia dan Singapura mengimplementasikan Travel Corridor Arrangement (TCA) atau juga dikenal dengan Reciprocal Green Lane (RGL). Skema ini khusus diperuntukkan bagi WNI dan warga negara Singapura yang ingin melakukan perjalanan bisnis mendesak, perjalanan diplomatik, dan kedinasan.

    Wakil Ketua Umum KADIN Bidang Hubungan Internasional Shinta W. Kamdani, berharap agar pemerintah Indonesia memperluas cakupan Reciprocal Green Lane (RGL) ke sejumlah negara tujuan investasi dan perdagangan Indonesia.

    “Sehingga hal ini memungkinkan warga dari sejumlah negara dapat melakukan perjalanan selama masa pandemi Covid-19,” ujarnya dalam keteranga resminya, Kamis, 19 November 2020.

    Menteri Luar Negeri Retno L. Marsudi menyatakan Singapura merupakan negara keempat yang mengimplementasikan TCA dengan Indonesia. Sebelumnya Indonesia sudah mengimplementasikannya dengan Uni Emirat Arab (UAE), Tiongkok dan Korea Selatan. Saat ini Indonesia sedang menegosiasikan TCA dengan pemerintah Jepang.

    “Adapun dengan negara-ASEAN secara prinsip politik juga sudah selesai. Tinggal ditindaklanjuti dengan teknis pelaksanaannya. TCA dengan sejumlah negara tersebut bisa menggerakkan lebih dari 50 persen perdagangan Indonesia," jelasnya.

    Mengenai diskriminasi, khususnya oleh Uni Eropa, Retno mengatakan pemerintah selalu melawan perlakuan yang tidak adil terhadap sejumlah komoditas Indonesia, seperti minyak kelapa sawit.

    “Saya telah berbicara langsung dengan VP Komisioner Uni Eropa dan menyampaikan pentingnya kemitraan serta pentingnya menyelesaikan diskriminisasi terhadap sawit,” katanya.

    Retno menegaskan, upaya pemerintah menghilangkan diskriminasi oleh negara lain tidak hanya untuk sawit, tetapi juga kopi, karet, udang dan komoditas lainnya.

    “Kami selalu bilang kepada negara mitra treat us fairly, ” jelas Retno.


    (SAW)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id