comscore

Harga Bahan Pokok Masih Tinggi, BKF: Upayakan Jaga Daya Beli Masyarakat

Insi Nantika Jelita - 13 Mei 2022 14:27 WIB
Harga Bahan Pokok Masih Tinggi, BKF: Upayakan Jaga Daya Beli Masyarakat
Ilustrasi pedagang bahan kebutuhan pokok di pasar tradisional - - Foto: MI/ Anindya Zaskia
Jakarta: Harga bahan pokok, seperti minyak goreng, bawang merah, hingga daging sapi masih terpantau tinggi hingga awal Mei ini.
 
Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan (Kemenkeu) Febrio Kacaribu mengatakan pemerintah berupaya melakukan pendekatan agar harga pangan terjaga di tengah tingginya harga global, seperti minyak goreng.
 
"Kita lihat harga minyak goreng curah saat ini year to date nya itu negatif empat persen. Ini harus kita jaga, terutama kita pastikan daya beli masyarakat miskin dan rentan terus kita kelola dengan baik," ujarnya dalam media briefing secara virtual, Jumat, 13 Mei 2022.
 
Dalam data yang dipaparkan Febrio, harga minyak goreng kemasan masih tinggi hingga menembus level Rp26 ribu per liter sampai Mei ini. Berbeda dengan harga minyak goreng curah yang berangsur menurun di level Rp18 ribu-Rp20 ribu per liter, seiring dengan kebijakan harga eceran tertinggi (HET).
 
Harga bahan pangan lainnya yang masih meningkat ialah bawang merah karena menipisnya stok. Harga stok pangan itu menembus Rp37 ribu per kilogram sampai Mei ini dengan pertumbuhan year to date (ytd) 32,9 persen.
 
"Bawang putih itu relatif terjaga, namun bawang merah itu cukup tinggi. Sementara harga gula relatif terjaga," ungkap Febrio.
 
Kemudian harga daging sapi juga dilaporkan masih meningkat karena stok yang menipis di tengah momentum Ramadan dan Lebaran yang menjadi incaran masyarakat.
 
Mulai dari Januari hingga Maret 2022, harga pangan itu terlihat stabil di kisaran Rp125 ribu-Rp130 ribu per kg. Lalu, pada April hingga Mei, melonjak menjadi Rp135 ribu-Rp144 ribu per kg.
 
"Daging sapi cukup tinggi terutama saat konteks Ramadan dan Idulfitri. Mudah-mudahan ke depan makin bisa dikelola dengan baik," ucap Febrio.
 
Ia menambahkan, untuk harga cabai merah dan cabai rawit masih relatif terjaga. Pertumbuhan cabai rawit secara year to date disebutkan lebih rendah.
 
Selanjutnya, harga beras juga dianggap stabil dan bisa dikendalikan pemerintah. Febrio menyinggung, Hal ini akibat curah hujan dalam dua tahun terakhir di Indonesia masih tinggi.
 
"Sehingga, harga beras bisa kita jaga dengan sangat terkendali. Share beras dalam IHK (indeks harga konsumen kita termasuk paling tinggi dengan 3,33 persem," pungkas Febrio.
 
BKF menyimpulkan kenaikan harga pangan nasional tidak lepas dari dinamika global imbas konflik Rusia-Ukraina. Banyak negara, kata Febrio yang mengalami inflasi, terlebih ada disrupsi suplai selama dua tahun selama pandemi covid-19.


(Des)

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

 

 

Komentar

LOADING
Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

  1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
  2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
  3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
  4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

Anda Selesai.

Powered by Medcom.id