SKK Migas Harap Pembentukan Subholding Hulu Pertamina Dorong Investasi

    Suci Sedya Utami - 02 Juli 2020 19:23 WIB
    SKK Migas Harap Pembentukan Subholding Hulu Pertamina Dorong Investasi
    Kepala SKK Migas Dwi Soetjipto. Foto: Medcom.id/Annisa Ayu Artanti
    Jakarta: Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) mengharapkan restrukturisasi PT Pertamina (Persero) dengan pembentukan subholding hulu akan diikuti peningkatan investasi.

    Kepala SKK Migas Dwi Soetjipto mengatakan dengan adanya subholding hulu tersebut melalui PT Pertamina Hulu Energi sebagai ujung tombaknya, diharapkan akan mempercepat pengambilan keputusan untuk kegiatan-kegiatan di sektor hulu.

    "Dengan dibangunnya subholding migas yang melahirkan Pertamina Hulu Energi, kita berharap akan diikuti dengan kecepatan pengambilan keputusan operasional hulu migas dan investasi lebih ditingkatkan," kata Dwi dalam webinar, Kamis, 2 Juli 2020.

    Pertamina melakukan restrukturisasi organisasi dengan membentuk beberapa subholding salah satunya di sektor hulu. Dalam struktur kepengurusan yang anyar di hulu, Pertamina merombak kepengelolaannya berdasarkan mekanisme regional.

    Satu anak usaha akan mengelola satu regional yang telah ditentukan. Sedangkan pada struktur sebelumnya, satu anak usaha bisa mengelola wilayah kerja atau blok migas di beberapa regional atau wilayah.

    Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati mengatakan restrukturisasi melalui pengukuhan subholding hulu akan menciptakan efisiensi. Ia bilang dengan pengukuhan subholding di sektor hulu membuat anak usaha Pertamina yang selama ini bergerak di sektor tersebut terintegrasi dan bersinergi, baik dari sumber daya manusia (SDM) maupun penggunaan fasilitas dan teknologi di lapangan.

    Ia  mencontohkan, misalnya saja jika sebelumnya salah satu anak usaha masing-masing mengadakan tender rig untuk proyek yang dikerjakan, maka anak usaha lainnya apabila ingin melakukan tender rig harus menunggu hingga selesai digunakan untuk anak usaha yang menggunakannya sebelumnya. Sehingga karena saling tunggu menunggu, maka tidak jarang proyek molor dari jadwal.
     
    "Kenapa eksplorasi di hulu seringkali terlambat? Karena masing-masing perusahaan menyewa atau mendatangkan alatnya sendiri-sendiri. Tendernya saja butuh waktu lebih dari setahun, jadi saling tarik menarik, kalau di sini belum selesai, di sana enggak bisa pakai. Dengan ini pengadaan tender lebih efisien," jelas Nicke.  
     



    (DEV)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id