Omzet Petani Tebu Turun di Musim Penen

    Ilham wibowo - 09 Juni 2020 22:39 WIB
    Omzet Petani Tebu Turun di Musim Penen
    Ilustrasi petani tebu - - Foto: Antara/ Mohammad Ayudha
    Jakarta: Sekjen Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) M. Nur Khabsyin menyebut omzet petani tebu saat musim giling atau panen tergerus lantaran bersamaan dengan masuknya stok gula impor.

    "Kami menilai tekanan harga itu salah satunya dipicu dengan masuknya gula impor secara bersamaan dengan musim giling tebu," kata Nur melalui keterangan tertulisnya, Selasa, 9 Juni 2020.

    Ia memaparkan harga gula di wilayah Pulau Jawa sudah menyentuh Rp10.800 per kg di tingkat petani. Jumlah tersebut turun drastis dibanding akhir bulan puasa yang masih mencapai Rp12.500-Rp13 ribu per kg.

    "Saat ini petani kesulitan menjual gula karena para pedagang dan distributor sudah mempunyai stok dari gula impor. Kami minta kepada pemerintah agar mengintruksikan pada perusahaan yang memperoleh izin impor untuk membeli gula petani," paparnya.

    Nur menuturkan stok impor gula yang terus berdatangan ditambah dengan mulai diproduksinya gula tebu lokal akan membuat pasokan nasional melimpah. Penurunan harga gula pada musim giling kali pun dirasakan jauh lebih cepat dari tahun-tahun sebelumnya.


    "Padahal, musim giling tebu diperkirakan akan berlangsung dalam empat sampai lima bulan ke depan. Harga di petani masih bisa turun terus bahkan sampai batas harga acuan pemerintah yang saat ini masih berlaku yakni Rp9.100 per kg," tuturnya.

    Harga acuan gula di tingkat petani memang diatur sesuai Permendag Nomor 42/2016 sebesar Rp9.100 per kg. Sementara di tingkat konsumen harga eceran tertinggi Rp12.500 per kg yang sudah berlaku kurun waktu empat tahun terakhir.

    "Kami menilai, harga itu sudah tidak sesuai dengan kondisi riil biaya produksi gula dalam negeri karena komponen biaya produksi konsisten meningkat setiap tahun, termasuk inflasi juga tiap tahun naik," ucap Nur.

    Sesuai perhitungan APTRI, lanjut dia, biaya pokok produksi gula berdasarkan kajian lapangan sudah menyentuh Rp12.772 per kg. Ia pun meminta Pemerintah untuk mulai memperhatikan petani tebu dalam negeri setelah kemarin disibukkan dengan stabilitasi harga di tingkat konsumen.


    "Tolong pemerintah sekarang fokus untuk perlindungan petani, tolong HPP gula tani segera diterbitkan. Kami sudah usulkan agar HPP gula tani dinaikkan menjadi Rp14 ribu per kg. HPP gula tani dibutuhkan sebagai pengaman harga ditingkat petani dan sebagai pedoman untuk menghitung pendapatan petani," pungkasnya.

    (Des)


    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id