Wamendag Ajak Pengusaha Tetap Optimistis di Tengah Pandemi

    Ilham wibowo - 18 Mei 2020 10:05 WIB
    Wamendag Ajak Pengusaha Tetap Optimistis di Tengah Pandemi
    Wakil Menteri Perdagangan (Wamendag) Jerry Sambuaga. Foto: Medcom.id/Ilham Wibowo.
    Jakarta: Wakli Menteri Perdagangan (Wamendag) Jerry Sambuaga mengajak dunia usaha tetap optimistis melihat peluang perdagangan di pasar dunia di tengah darurat pandemi covid-19. Kemampuan beradaptasi dengan kondisi yang disebut the new normal ini merupakan semangat yang harus terus dibangun bersama.

    Menurutnya, tidak ada satu negara pun yang tidak mengalami kesulitan di tengah pandemi ini. Meski demikian, kesiapan menghadapi situasi sulit perlu diperkuat agar Indonesia memiliki kesempatan yang sama untuk bangkit dan melewati masa krisis.

    "Kita sebarkan terus kita jaga agar perdagangan Indonesia kembali pulih dengan cepat," kata Jerry melalui keterangan tertulisnya, Senin, 18 Mei 2020.

    Jerry memaparkan bahwa status pandemi covid-19 yang ditetapkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sejak 12 Maret 2020 telah berdampak pada berbagai sektor, tidak terkecuali sektor perdagangan.

    Perdagangan memasuki fase yang berat sejak kuartal pertama 2020 lantaran bisnis tidak lagi dapat berjalan normal karena ketidakpastian global dan nasional yang terjadi saat ini.

    IMF pun memperkirakan pertumbuhan ekonomi dunia pada 2020 tumbuh negatif tiga persen. Penurunan pertumbuhan ekonomi ini akan dirasakan paling dalam oleh negara-negara maju dibandingkan dengan negara-negara berkembang. Perdagangan dunia pada 2020 juga diperkirakan akan turun tajam menjadi negatif 11 persen dari 0,9 persen pada 2019.

    Dengan gambaran kinerja perdagangan global dan situasi pandemi covid-19 saat ini, lanjut Jerry, pertumbuhan ekonomi Indonesia 2020 diperkirakan akan jauh lebih rendah dari target APBN 2020, dengan dua skenario, yaitu buruk dengan tumbuh 2,3 persen dan terburuk atau tumbuh negatif 0,4 persen.

    Skenario itu dibuat meski IMF memprediksi sedikit lebih baik, yang pertumbuhan ekonomi Indonesia tumbuh 0,5 persen.

    Ia menuturkan bahwa pada Januari-Maret 2020, neraca perdagangan Indonesia sebenarnya mulai membaik dan mengalami surplus sebesar USD2,6 miliar yang terdiri dari surplus neraca nonmigas sebesar USD5,7 miliar dan defisit neraca migas USD 3,0 miliar.

    Ekspor Indonesia juga tercatat sebesar USD41,8 miliar atau naik 2,91 persen dibandingkan Januari-Maret 2019. Tiongkok, Amerika Serikat, dan Jepang masih menjadi negara utama tujuan ekspor nonmigas Indonesia dengan pangsa masing-masing sebesar 15,1 persen, 12,2 persen dan 8,7 persen terhadap ekspor non migas periode Januari-Maret 2020.

    "Namun, yang perlu juga kita cermati pada masa pandemi ini, ekspor nonmigas justru tumbuh signifikan ke Singapura yaitu naik 35,4 persen dan Italia naik 22,5 persen," tuturnya.

    Dari sisi produk, beberapa produk utama ekspor yang mengalami peningkatan tertinggi pada Januar-Maret 2020 (yoy) antara lain pakaian jadi bukan rajutan naik 84,2 peren, kendaraan dan bagiannya naik 36,2 persen, produk tekstil jadi lainnya naik 15,0 persen, CPO dan  turunannya naik 10,3 persen, serta elektronik naik 1,9 persen.

    “Kita bisa memanfaatkan peluang pertumbuhan ekspor beberapa produk ini, namun tetap harus waspada akan kemungkinan penurunan ekspor andalan seperti CPO dan batu bara, terutama ke India karena upaya self reliant. Keinginan menjadi negara mandiri melalui pemenuhan kebutuhan oleh industri di dalam negeri ini diprediksi akan banyak terjadi di beberapa negara lain di tengah pandemi,” ujar Jerry.

    Jerry juga mengungkapkan, selama masa pandemi covid-19 para perwakilan perdagangan RI seperti Atase Perdagangan, Indonesia Trade Promotion Center (ITPC), serta Kantor Dagang dan Ekonomi (KDEI) yang tersebar di 33 negara juga mengalami kesulitan untuk melakukan pameran dan mengumpulkan para buyer.

    Pembatasan sosial maupun lockdown yang diberlakukan di hampir seluruh negara telah membuat upaya menjalin kerja sama perdagangan tidak berjalan efektif.

    "Beberapa pameran berskala nasional dan internasional juga dibatalkan sebagai akibat dari pandemi covid-19," ucapnya.

    Jerry mengatakan bahwa tantangan yang dihadapi bukan alasan untuk tidak memanfaatkan peluang untuk mendorong ekspor Indonesia. Ia meyakini situasi krisis telah meninggalkan pembelajaran seperti agar tidak menempatkan basis produksi terpusat atau bergantung di satu tempat.

    Menurutnya, jauh lebih baik jika banyak negara terhubung dalam rantai pasok global untuk menjaga keberlangsungan pasokan. Situasi ini sekaligus menjadi peluang relokasi dari beberapa perusahaan multinasional yang ada di Tiongkok ke negara lain, termasuk Indonesia pasca covid-19.

    Kerja sama global juga tetap memegang peranan penting negara-negara G20 yang telah sepakat untuk membentuk front bersama guna mengatasi covid--19 sebagai common threat. Kesepakatan sebelumnya juga terjalin untuk komitmen kelancaran perdagangan di tengah penangan pandemi di tiap negara.

    “Saya percaya, kita semua selalu optimis memandang masa depan Indonesia. Mari kita bergotong-royong dalam menjaga roda perdagangan agar tetap bergerak di tengah pandemi covid-19,” pungkasnya.



    (DEV)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id