Dukungan Fiskal dan Manajemen Pandemi Jadi Kunci Utama Kebangkitan Ekonomi RI

    Husen Miftahudin - 11 Mei 2021 07:58 WIB
    Dukungan Fiskal dan Manajemen Pandemi Jadi Kunci Utama Kebangkitan Ekonomi RI
    Gedung DBS. FOTO: DBS



    Jakarta: DBS Group Research memperkirakan upaya pemerintah memulihkan perekonomian nasional dari dampak pandemi covid-19 akan mulai terasa pada kuartal kedua dan ketiga tahun ini. Selain vaksinasi, faktor dari perdagangan, dukungan fiskal, serta manajemen pandemi bakal menjadi hal penting dalam memuluskan jalan untuk kebangkitan ekonomi.

    Dari faktor eksternal, stabilisasi nilai dolar Australia dan dolar Amerika Serikat (USD) memberikan kelegaan pada pasar dalam negeri. Imbal hasil obligasi rupiah menguat dari tingkat tertinggi pada Maret, sementara nilai rupiah mengurangi kerugian dengan depresiasi negatif 2,7 persen sejak awal tahun.

     



    "Unsur penyeimbang, seperti kepemilikan asing lebih kecil di obligasi pemerintah, defisit transaksi berjalan yang dapat dikelola, operasi mata uang asing reguler oleh pihak berwenang untuk menahan gejolak, dan dorongan investasi lebih luas untuk menarik arus dana masuk, akan mendukung rupiah pada tahun ini," tulis hasil riset yang dipublikasikan Selasa, 11 Mei 2021.

    Dalam riset DBS yang bertajuk 'Indonesia: Ekonomi Sudah Mencapai Titik Terendah' itu belanja fiskal tahunan Indonesia mengalami kenaikan sebesar 13,8 persen pada kuartal I-2021 atau angka ini melebihi pendapatan. Melonjaknya belanja fiskal tersebut utamanya disebabkan oleh alokasi yang lebih tinggi untuk bantuan sosial (bansos), subsidi, material, dan belanja modal.

    Adapun pada akhir Maret 2021, sekitar 11 persen dari paket pemulihan ekonomi nasional senilai Rp700 triliun telah dicairkan. Alhasil, defisit fiskal pada kuartal pertama mengalami pelebaran secara nominal jika dibandingkan dengan waktu yang sama pada tahun lalu dan rata-rata empat tahun sebelumnya.

    "Hal itu menunjukkan bahwa sampai saat ini percepatan pencairan dana pemulihan menjadi pertanda baik bagi pertumbuhan. Jika kecepatan tersebut bertahan, serta pengeluaran dan konsumsi pemerintah lebih tinggi, maka akan membantu pertumbuhan yang masih dihantui belum pulihnya permintaan dari sisi swasta maupun rumah tangga," papar DBS.

    Di sisi lain, ekspor tahunan Indonesia mengalami kenaikan sebanyak 17 persen pada kuartal I-2021. Capaian ini didukung oleh pengiriman nonmigas yang dipimpin oleh pertambangan (tembaga, nikel) dan barang manufaktur (logam dasar, karet, minyak sawit, bahan kimia, dan lain-lain).

    Bahkan, saat impor meningkat jika dibandingkan dengan kuartal I-2020, ekspor justru mengalami peningkatan lebih tajam. Hal tersebut menyebabkan surplus perdagangan yang naik hampir dua kali lipat pada awal tahun.

    "Kinerja perdagangan baik yang diuntungkan oleh perbaikan ekonomi global, terutama Tiongkok dan Amerika Serikat, serta kenaikan harga komoditas utama akan menjadi pertanda baik bagi ekspor bersih sebagai penunjang pertumbuhan serta dinamika transaksi berjalan," papar DBS.

    Adapun sebanyak 13 juta penduduk telah menerima setidak-tidaknya satu dosis vaksin, sedangkan 8 juta di antaranya telah menerima dua dosis (tiga persen dari jumlah penduduk). Selain kesepakatan yang sudah ada untuk 140 juta dosis vaksin dari Sinovac, tambahan 90 juta sampai 100 juta dosis vaksin sedang dicari untuk pemasok yang sama, selain menjajaki lebih banyak pasokan dari Novavax dan Pfizer.

    Terlepas dari peluncuran vaksin secara nasional, pemerintah berupaya mendapatkan 35 juta dosis vaksin dari Sinopharm, Tiongkok, dan Sputnik, Rusia, untuk peluncuran program vaksinasi gotong royong atau mandiri yang akan dimulai pada akhir bulan ini.

    DBS menilai, guna mencapai sasaran yang direncanakan untuk dua pertiga penduduk atau setara dengan 182 juta masyarakat pada kuartal I-2022, kecepatan vaksinasi harian perlu ditingkatkan. Setidak-tidaknya lima kali lipat, sehingga pasokan yang memadai perlu ditingkatkan.

    "Hal positifnya adalah bahwa jumlah kasus positif harian Indonesia berkurang setengah dari jumlah tertinggi pada Januari-Februari di tengah perluasan pembatasan mikro dan larangan mudik Idulfitri dalam upaya mencegah penyebaran penularan," ungkap DBS.

    Sebagai langkah pencegahan, jumlah hari libur nasional pun dikurangi pada tahun ini selain pembatasan perjalanan ke/dari negara yang mengalami peningkatan penularan yang tinggi.
     
    "Inokulasi tepat waktu dan efisien akan membantu meminimalkan biaya jika terjadi kemunculan penyakit itu, terutama karena anggota Asean menghadapi lonjakan baru dalam penularan, misalnya Malaysia dan Thailand," tutup DBS.

    (ABD)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id