Harga Pangan Berpotensi Naik di 2021

    Suci Sedya Utami - 20 November 2020 19:27 WIB
    Harga Pangan Berpotensi Naik di 2021
    Ilustrasi harga bahan pokok di pasar tradisional - - Foto: Medcom/ Husen Miftahudin
    Jakarta: Peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Galuh Octania memperkirakan harga komoditas pangan berpotensi mengalami kenaikan pada tahun depan.

    Hal ini dikarenakan pandemi covid-19 yang tak kunjung berakhir, di tambah beberapa provinsi mengalami defisit sejumlah komoditas pangan, seperti beras, jagung, gula, cabai, bawang putih, bawah merah, dan telur.

    Defisit terjadi di berbagai provinsi lantaran bukan penghasil utama dari komoditas-komoditas tersebut. Kemudian proses distribusi juga sempat terhalang akibat adanya Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dan berbagai kebijakan pembatasan lainnya.

    "Distribusi dan kesediaan sebagian besar pangan pokok di Indonesia memang sudah lebih stabil tetapi beberapa komoditas yang sebagian besar sumber ketersediaan berasal dari impor, seperti bawang putih, gula, daging sapi dan kedelai, diprediksi juga akan mengalami fluktuasi harga," kata Galuh dalam keterangan resmi, Jumat, 20 November 2020.


    Di sisi lain, kesulitan dalam mengamankan impor daging sapi dapat meningkatkan kemungkinan kenaikan harga domestik. Apalagi perayaan Idulfitri pada tahun ini akan berlangsung lebih awal.

    Ia bilang permintaan yang lebih rendah memang dapat meredam kenaikan harga. Namun, menjelang Ramadan dan Idulfitri, jumlah permintaan sudah dipastikan akan melebihi permintaan di hari-hari biasa.

    Untuk itu, ketersediaan stok yang memadai sangat diperlukan dalam menjaga kestabilan harga pangan. Terutama komoditas yang tergolong pokok dan dan sumber ketersediaannya sebagian besar berasal dari impor.
     
    “Rentetan peristiwa yang menandai fluktuasi harga komoditas pangan, terutama yang termasuk pada komoditas pokok dan ketersediaannya dipenuhi lewat impor, idealnya sudah bisa dijadikan parameter dalam mengambil kebijakan," terang dia.
     
    Selain itu, data produksi pangan yang akurat dan dapat dipertanggungjawabkan menjadi sangat penting dalam menentukan kebijakan. Proses panjang importasi juga perlu diingat sehingga timing masuknya komoditas pangan impor tidak merugikan petani.

    Laporan World Food Programme mencatat harga pangan dunia turun sebesar 4,3 persen di antara Februari dan Maret 2020 akibat adanya penurunan permintaan di masa pandemi covid-19. Akan tetapi, harga beras justru mengalami kenaikan lantaran adanya perilaku menimbun yang dilakukan oleh masing-masing BUMN pangan negara-negara dunia, dan menutup pintu ekspor demi memenuhi produksi domestik terlebih dahulu.

    "Tindakan inilah yang kemudian menyebabkan adanya ketidakseimbangan supply dan demand. Seluruh negara berusaha mengamankan ketersediaan pangan dalam negeri dengan tidak melakukan ekspor dan tertutup pada impor," terangnya.

    Food and Agriculture Organization (FAO) mencatat harga komoditas pangan di tingkat internasional mulai kembali mengalami kenaikan sejak Mei hingga November 2020. Data The FAO Food Price Index (FFPI) di Oktober 2020 berada di angka rata-rata 100,9, tertinggi sejak Januari 2020 dan mengalami kenaikan sebesar 3,1 persen dari bulan September dan enam persen lebih tinggi dari bulan Oktober tahun 2019 lalu. Kenaikan banyak disumbang oleh komoditas gula, sereal, dan minyak nabati.


    "Kenaikan harga pangan di tingkat internasional dapat pula berpengaruh pada harga dalam negeri. Kalau ketersediaan stok sudah tidak mencukupi dan harga-harga sudah mulai naik, mempertimbangkan stok dari impor dapat menjadi salah satu akses untuk menyediakan komoditas pangan yang tidak kalah berkualitas dengan harga yang terjangkau," pungkasnya.

    (Des)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id