Asosiasi Petani Tembakau Tolak Kenaikan Cukai Rokok

    Husen Miftahudin - 13 November 2020 22:49 WIB
    Asosiasi Petani Tembakau Tolak Kenaikan Cukai Rokok
    Ilustrasi kebun tembakau. Foto: Medcom.id.
    Jakarta: Ribuan petani yang tergabung dalam Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) dari berbagai daerah bakal menyampaikan keberatan dan kekecewaannya lantaran pemerintah berencana menaikkan cukai dan Harga Jual Eceran (HJE) rokok untuk tahun depan. Padahal saat ini petani tembakau masih merasakan penderitaan akibat krisis ekonomi dan pandemi covid-19.

    "Ribuan anggota masyarakat petani tembakau dari berbagai kabupaten dan kota di Jawa Barat siap berdemo di Jakarta dengan biaya sendiri. Kami bahkan siap menginap di Jakarta, jika pemerintah tidak mau mendengar keluhan kami dengan tetap menaikkan cukai rokok," kata Ketua APTI Jawa Barat Suryana dalam keterangannya, Jumat, 13 November 2020.

    Lebih lanjut Suryana menegaskan pemerintah sudah sepantasnya berpihak kepada kepentingan nasional dan kepentingan petani tembakau dengan melindungi petani tembakau dan industri rokok nasional. Sebab selama ini petani dan industri rokok nasional sudah memberikan sumbangan besar bagi keuangan negara.

    "Saat ini petani tembakau sudah sangat menderita. Selain kelangkaan pupuk, akibat kenaikan cukai rokok yang sangat besar di 2019 lalu, pembelian tembakau menurun. Karena itu, kami meminta jangan lagi bebani petani tembakau dengan kenaikan cukai rokok di 2021. Kami memohon presiden dan menteri keuangan untuk tidak menaikkan cukai rokok," harapnya.

    Hal yang sama disampaikan Ketua APTI Nusa Tenggara Barat (NTB) Sahminudin. Menurutnya setiap kenaikan satu persen cukai rokok menyebabkan 1,2 miliar batang rokok tidak laku terjual.

    Kondisi itu berdampak pada berkurangnya pembelian tembakau oleh industri rokok ke petani tembakau. Akibatnya, kenaikan cukai rokok sebesar 23 persen di 2019 lalu ditambah wabah covid-19 dan krisis ekonomi, menjadikan sebanyak 60 miliar batang rokok tidak laku terjual.

    "Jika pemerintah kembali menaikkan cukai rokok di 2020 atau di 2021 akan semakin banyak jumlah batangan rokok yang tidak terserap pasar. Itu berarti akan semakin banyak tembakau petani yang tidak bisa dibeli atau tidak terserap oleh produsen rokok. Petani cukai semakin menderita. Industri rokok juga. Nah kalau industri rokok mengurangi jumlah produksinya, pendapatan negara dari cukai rokok juga akan berkurang jauh," ketus Sahmihudin.

    Di sisi lain Sahminudin mendukung kebijakan Kementerian Perindustrian (Kemenperin) yang menolak kenaikan cukai rokok. Kemenperin dinilai memahami kesulitan industri rokok. Karena itu, jika Kementrian Keuangan tetap ngotot menaikkan cukai rokok, maka pengurus dan anggota APTI akan sama-sama melakukan unjuk rasa menolak kenaikan cukai rokok.

    "Sekiranya dengan sangat terpaksa karena kesulitan keuangan akibat resesi dan wabah covid-19, maka besaran kenaikan yang maksimal adalah sesuai saran dari Gubernur Jawa Tengah yakni sebesar lima persen," ungkap dia.

    Ketua DPN APTI Agus Pamudji menambahkan adanya kabar pemerintah bakal menaikkan cukai sebesar 15 persen untuk 2021 menunjukkan bahwa pemerintah tidak pro dengan para petani tembakau. Dia bilang, naiknya cukai yang sudah berlangsung pada 2020 ini seharusnya menjadi pengalaman untuk merekap data dan melihat fakta bagaimana dampaknya tehadap para petani tembakau.

    Daya jual rokok menurun, pabrik menekan kebutuhan, serapan tembakau menurun, serta harga jual tembakau anjlok. Kondisi ini diperparah dengan hasil panen tebakau yang menurun akibat musim kemarau basah maupun efek dampak pandemi covid-19.

    "Jika pemerintah memaksakan kenaikan cukai lebih dari lima persen pada 2021 nanti, maka akan berdampak luar biasa bagi keberlangsungan ekonomi petani tembakau. Hal itu dikarenakan pihak industri akan menekan penjualan rokok dan pembelian tembakau karena daya jual semakin menurun," pungkas Agus.

    (AHL)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id