Lonjakan Impor Kertas Pembungkus Tembakau Rugikan Industri RI

    Ilham wibowo - 28 Oktober 2020 12:05 WIB
    Lonjakan Impor Kertas Pembungkus Tembakau Rugikan Industri RI
    Tembakau. Foto : Medcom.id.
    Jakarta: Industri kertas Indonesia mengalami kerugian yang dinilai cukup serius lantaran lonjakan impor produk pembungkus tembakau. Kondisi tersebut telah diadukan ke Komite Pengamanan Perdagangan Indonesia (KPPI) Kementerian Perdagangan (Kemendag).

    Ketua KPPI Mardjoko menyampaikan bahwa pihaknya telah memulai penyelidikan tindakan pengamanan perdagangan (safeguard measures) atas lonjakan jumlah impor barang kertas sigaret terhitung mulai 26 Oktober 2020. Penyelidikan dilakukan setelah mendapat permohonan Asosiasi Pulp dan Kertas Indonesia (APKI) atas nama industri dalam negeri penghasil komoditas tersebut.

    Adapun kertas sigaret merupakan kertas yang digunakan sebagai pembungkus tembakau. Produk barang kertas sigaret yang diselidiki terdiri atas tiga nomor Harmonized System (HS), yaitu ex.4813.20.00, ex.4813.90.10, ex.4813.90.90 sesuai dengan Buku Tarif Kepabeanan Indonesia (BTKI) 2017.

    “Dari bukti awal permohonan yang diajukan oleh APKI, KPPI menemukan adanya lonjakan jumlah impor barang kertas sigaret. Selain itu, terdapat indikasi awal mengenai adanya kerugian serius atau ancaman kerugian serius yang dialami oleh industri dalam negeri sebagai akibat dari lonjakan jumlah impor barang kertas sigaret,” ujar Mardjoko melalui keterangan resmi, Rabu, 28 Oktober 2020.

    Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), dalam tiga tahun terakhir (2016-2019) terjadi peningkatan jumlah impor barang kertas sigaret dengan tren sebesar 17,67 persen. Pada periode Januari-Juni 2020, jumlah impor meningkat sebesar 63,24 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2019.

    Negara asal impor barang kertas sigaret antara lain Austria dengan pangsa pasar 32,12 persen, Tiongkok (31,59 persen), Vietnam (17,97 persen), Spanyol (12,75 persen), dan negara lain (5,58 persen).

    Sedangkan kerugian serius atau ancaman kerugian serius tersebut, menurut Mardjoko, terlihat dari beberapa indikator kinerja industri dalam negeri pada 2016-2019. Indikator tersebut di antaranya penurunan produksi yang berdampak terhadap menurunnya produktivitas dan kapasitas terpakai.

    "Berkurangnya jumlah tenaga kerja, penurunan keuntungan dan berlanjut menjadi kerugian di 2019, serta penurunan pangsa pasar industri dalam negeri di pasar domestik," ungkapnya.

    Pada Januari-Juni 2020, lanjut Mardjoko, pemohon mengalami kerugian yang semakin besar. Hal ini ditandai dengan adanya penurunan produksi, penjualan domestik, produktivitas, kapasitas terpakai, tenaga kerja, yang berakibat kerugian finansial dibandingkan dengan periode yang sama 2019.

    “KPPI telah menyampaikan informasi terkait dimulainya penyelidikan tersebut kepada pihak pihak yang berkepentingan seperti industri dalam negeri, eksportir, eksportir produsen, dan importir. Pihak pihak yang berkepentingan dipersilakan mendaftarkan diri selambat-lambatnya 15 hari sejak tanggal pengumuman ini. Pendaftaran dapat disampaikan secara tertulis kepada KPPI," ungkap Mardjoko.  


    (SAW)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id