Riset dan Inovasi Dukung Indonesia Jadi Pusat Produsen Produk Halal Dunia

    Eko Nordiansyah - 22 September 2021 17:48 WIB
    Riset dan Inovasi Dukung Indonesia Jadi Pusat Produsen Produk Halal Dunia
    Ilustrasi peta penyebaran industri halal global - - Foto: dok MES



    Jakarta: Pengembangan riset dan inovasi sains halal yang unggul, kompetitif, dan berdaya saing dinilai bisa mewujudkan cita-cita Indonesia untuk menjadi pusat produsen produk halal dunia. Apalagi pemerintah juga telah menyusun Rencana Induk Riset Nasional (RIRN) pada 2017-2045.

    Staf Ahli Menteri Keuangan Bidang Jasa Keuangan dan Pasar Modal Suminto mengatakan, penyusunan RIRN dilakukan untuk menyelaraskan kebutuhan riset jangka panjang yang sejalan dengan arah perencanaan pembangunan nasional terkait ilmu pengetahuan dan teknologi.

     



    Bidang prioritas yang ditetapkan dalam RIRN 2017-2045 yaitu pangan-pertanian, energi, kesehatan-obat, transportasi, teknologi informasi, pertahanan, material maju, kemaritiman, kebencanaan dan sosial-humaniora.

    "Fokus bidang prioritas dalam RIRN 2017-2045 tersebut tentunya juga memberikan peluang terbuka bagi pengembangan riset di bidang ekonomi syariah untuk ikut serta dalam arus besar penelitian nasional," ujar Suminto dilansir dari laman resmi Kemenkeu, Rabu, 22 September 2021.

    Direktur Eksekutif Komite Nasional Ekonomi Keuangan Syariah (KNEKS) Ventje Rahardjo menjelaskan Indonesia telah memiliki berbagai lembaga atau pusat-pusat riset strategis yang berkontribusi pada pengembangan ekonomi syariah nasional, baik dalam bentuk riset ilmiah maupun riset terapan yang dikomersialisasi.

    Lembaga atau pusat-pusat riset tersebut berperan aktif serta berada di bawah koordinasi kementerian/lembaga, universitas, Lembaga Swadaya Masyarakat (non-governmental organization), maupun pelaku industri.

    "Hingga saat ini, Indonesia memiliki lebih dari sembilan pusat riset di bidang sains halal, lebih dari 58 program/pusat studi ekonomi syariah dan sains halal yang aktif dalam kegiatan riset dan inovasi, serta lebih dari 1.084 peneliti dengan spesialisasi ekonomi syariah serta industri produk halal," ungkapnya.

    Sementara itu, Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Handoko menjelaskan dukungan riset sangat diperlukan dalam pengembangan ekonomi dan keuangan syariah di Indonesia. Menindaklanjuti arahan Wakil Presiden Maruf Amin, BRIN telah aktif dalam pengembangan research and Development (R&D) bahan substitusi non-halal dan autentikasi halal.

    Komitmen untuk mendukung penuh ekosistem Syariah Indonesia di sisi R&D, dilakukan BRIN melalui koordinasi dengan Badan Standardisasi Nasional (BSN). BRIN juga telah melakukan investasi menggunakan Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) dalam mendirikan Pusat Sains dan Teknologi Pangan untuk pusat halal di Gunung Kidul D.I. Yogyakarta.

    "Adapun bentuk dukungan konkret riset ekonomi Syariah, yaitu mencakup bagaimana menciptakan atau mengubah proses bisnis dalam rangka meningkatkan daya tarik dari produk-produk ekonomi dan keuangan Syariah, bagaimana riset dapat mengembangkan teknologi untuk memastikan kehalalan produk dan standar nilai halal, dan pengembangan Sumber Daya Manusia yang kompeten dalam melakukan kegiatan R&D dan inovasi," ujar Handoko.


    (Des)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id