Restrukturisasi Bisa Pangkas 50% Beban Biaya Garuda

    Suci Sedya Utami - 03 Juni 2021 22:14 WIB
    Restrukturisasi Bisa Pangkas 50% Beban Biaya Garuda
    Wakil Menteri BUMN Kartika Wirjoatmodjo - - Foto: dok MI



    Jakarta: Wakil Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) I Kartika Wirjoatmodjo mengatakan upaya restrukturisasi Garuda Indonesia diharapkan bisa memangkas 50 persen beban biaya yang harus ditanggung oleh maskapai nasional itu.

    Saat ini Garuda memiliki utang yang membengkak dari Rp20 triliun menjadi Rp70 triliun atau sekitar USD4,5 miliar. Ia mengatakan utang ini harus diturunkan ke kisaran USD1 miliar-USD1,5 miliar.

     



    Menurutnya, Kementerian BUMN telah berkomunikasi secara intensif dengan manajemen Garuda termasuk para pemegang saham minoritas hingga Kementerian Keuangan. Hal ini agar proses restrukturisasi tersebut mampu mengurangi utang tersebut.

    Selain itu, kementerian juga sedang merumuskan pola dan legal prosesnya. Sebab restrukturisasi Garuda melibatkan lessor dan pemilik obligasi global yang diterbitkan oleh perseroan.

    "Apabila Garuda bisa melakukan restrukturisasi secara massal dengan seluruh lender lessor dan pemegang sukuk dan melakukan cost reduction, harapannya cost itu menurun 50 persen atau lebih, maka garuda bisa survive pasca-restukturisasi," kata Tiko dalam rapat kerja dengan Komisi VI DPR RI, Jakarta, Kamis, 3 Juni 2021.

    Untuk bisa menekan utang menjadi USD1,5 miliar, Garuda harus mencatatkan EBITDA sebesar USD200 juta hingga USD250 juta.

    "Secara sederhana, kalau EBITDA tidak sampai USD200 juta-USD250 juta, karena dalam kondisi keuangan normal maksimum rasionya enam kali. Jadi sekitar USD250 juta dikali enam, USD1,5 miliar. Di atas itu Garuda enggak bisa going concern karena nggak mau bayar utang-utangnya," tutur dia.

    Tiko menambahkan restrukturisasi ini terbilang berat karena membutuhkan negosiasi dan proses hukum yang melibatkan banyak pihak. Upaya ini diharapkan bisa menurunkan struktur cost Garuda yang ia sebut setiap bulan merugi USD100 juta karena memiliki cost USD150 juta namun revenue hanya USD50 juta.

    "Jadi mau tidak mau cost harus dipotong lebih rendah," jelas dia.


    (Des)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id