Banyak Dicari, Permintaan terhadap Plastik PET Meningkat Setiap Tahunnya

    Gervin Nathaniel Purba - 07 September 2020 15:09 WIB
    Banyak Dicari, Permintaan terhadap Plastik PET Meningkat Setiap Tahunnya
    Permintaan terhadap plastik PET meningkat setiap tahun, termasuk saat pandemi covid-19 (Foto:Dok.Metro TV)
    Jakarta: Masyarakat Indonesia belum sepenuhnya teredukasi untuk memilah sampah sebelum membuangnya. Sebagian besar orang tak menyadari bahwa sampah plastik jenis PET bernilai jual karena dapat didaur ulang, sekaligus ramah lingkungan.

    Apa sebenarnya PET? Bagi Anda yang belum tahu, PET merupakan singkatan dari Polyethylene Terephthalate. Ini adalah jenis plastik yang paling mudah didaur ulang, dengan kode angka 1.  

    PET merupakan salah satu senyawa kimia yang berwujud plastik. Bahan dasar dari semua jenis plastik pembungkus adalah senyawa etilen yang berasal dari gas alam atau minyak mentah.

    Pada umumnya, PET digunakan untuk kemasan makanan dan minuman. Salah satu produk paling sering Anda temui yang memakai botol PET ialah air mineral kemasan. Tak hanya itu, PET juga dimanfaatkan dalam industri tekstil, dakron, dan geotekstil. Bahkan, penahan infrastruktur juga sudah ada yang menggunakan PET. 

    "PET lebih murah dibandingkan PP (polypropylene) dan bisa diaplikasikan ke banyak produk ketimbang PP," ujar Wakil Sekretaris Asosiasi Daur Ulang Plastik Indonesia (ADUPI) Wartono, kepada Medcom.id. 

    Untuk diketahui, PP merupakan sebuah polimer termo-plastik yang dibuat oleh industri kimia. Contoh penggunaan PP biasanya untuk alat keperluan medis atau laboratorium. Selain itu, bisa juga diaplikasikan pada tekstil, alat tulis, dan uang kertas polimer. 

    Sementara itu, PET memiliki beberapa sifat yang unggul selain mudah didaur ulang, yaitu berwarna jernih, ringan, mudah dibentuk, dan tidak mudah pecah. Kestabilan sifat PET ini membuatnya dapat dikonversi menjadi beragam produk turunan dan bernilai ekonomi.

    Oleh karena itu tidak heran permintaan terhadap PET kian meningkat. "ADUPI mencatat terdapat peningkatan permintaan rata-rata 7 persen setiap tahun. Termasuk saat pandemi covid-19," tutur Wartono.

    Wartono optimistis permintaan terhadap PET akan stabil, meski di tengah situasi pandemi. "(Permintaan PET) untuk industri kemasan tidak ada pengaruh selama pandemi covid-19. Sebab, kebutuhan bahan pokok makanan dan minuman pun tidak turun," ujar Wartono.

    Penurunan permintaan PET justru terjadi pada industri kasur, kasur lipat, dan dakron. "Pada awal pandemi, hanya terjual 30 persen dari kapasitas. Namun setelah Lebaran hingga saat ini, penjualan sudah 30 hingga 90 persen dari kapasitas," ujarnya.

    Banyaknya permintaan PET pada industri kemasan juga mendorong ADUPI mengajukan penambahan kuota impor. Biasanya botol PET diimpor dari Australia, Selandia Baru, Spanyol, Amerika Serikat, dan Jepang.  

    "Karena banyaknya permintaan, kami mengajukan kuota impor. Pasokan dalam negeri kurang untuk memenuhi permintaan industri daur ulang," kata Wartono.

    Tingginya permintaan PET untuk industri daur ulang tersebut senada dengan pernyataan dari Direktur Pengelolaan Sampah Kementerian Kehutanan dan Lingkungan Hidup (KLHK) Novrizal Tahar.

    Menurut catatan KLHK, sampah jenis PET cenderung hampir habis di lapangan, baik jenis botol plastik maupun gelas plastik. 

    "Limbah jenis itu rate daur ulangnya hampir 100 persen. Terutama PET kalau dikelola dengan baik, memiliki nilai ekonomi cukup tinggi. Saking tingginya, bila kita melihat ke pembuangan akhir, jumlah sampah jenis plastik tersebut hampir sulit ditemukan," kata Direktur Pengelolaan Sampah KLHK Novrizal Tahar.


    Membangun Kesadaran Masyarakat Memilah Sampah


    Di satu sisi, masyarakat belum teredukasi mengenai pemanfaatan plastik PET untuk didaur ulang. Kesadaran memilah sampah juga masih kurang. Pada umumnya, semua botol yang sudah tidak terpakai langsung dicampur menjadi satu dengan sampah lain.

    Wartono menyoroti minimnya peran pemerintah dalam mengedukasi masyarakat mengenai pemanfaatan daur ulang PET. Ia melihat bank sampah yang didirikan oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) tidak berjalan efektif.

    "KLHK membangun bank sampah di mana-mana. Dibuat, tapi tidak mendidik dan tidak dikasih arahan bagaimana pemilahan yang baik, dan mengenal jenis-jenis plastik," katanya.

    Sebenarnya, tidak sulit mengenali ciri jenis plastik PET. Biasanya di bagian bawah botol tercantum tulisan PET dengan kode angka 1. Cara lain untuk memastikan botol PET ialah dengan dibakar.

    "Kalau kita bakar, botol PET akan melar seperti benang, ada serat-serat benang, dan sisa bakarannya tampak ada serabut. Kalau PP dibakar, langsung hilang, menetes seperti lilin," ucap Wartono.

    Dalam meningkatkan kesadaran masyarakat untuk memilah sampah dan mengenal jenis-jenis plastik, ADUPI menggandeng LSM. Kolaborasi ini pernah dilaksanakan di Dieng, Jawa Tengah, dan Garut, Jawa Barat.

    "Pada prinsipnya ADUPI siap berkolaborasi dengan Dinas Perindustrian di daerah untuk memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai bank sampah. Kami siap turun untuk mengedukasi mereka," kata Wartono.

    (ROS)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id