Plus Minus Opsi Lockdown

    Annisa ayu artanti - 20 Maret 2020 13:31 WIB
    Plus Minus Opsi <i>Lockdown</i>
    Ilustrasi - - Foto: Medcom
    Jakarta: Kebijakan penutupan suatu wilayah atau lockdown dalam penanganan virus korona (covid-19) menuai pro dan kontra. Presiden Joko Widodo pun belum berencana menerapkan kebijakan tersebut.

    Kepala Ekonom Bank Central Asia (BCA) David Sumual menilai penerapan lockdown bukan perkara mudah. Sebab, memiliki banyak konsekuensi terutama bagi perekonomian Indonesia.

    "Karena konsekuensinya jelas, buat ekonomi jelek, terus buat pendapatan cut informal juga enggak baik, dan kemungkinan ada ekses-ekses keamanan dan sosial," kata David kepada Medcom.id Jumat, 20 Maret 2020.

    Ia mengakui kebijakan lockdown memang akan memperlambat penyebaran virus korona melalui kontak langsung. Namun, perlu persiapan yang sangat matang misalnya kebutuhan pokok, jalur logistik, dan persiapan mengenai pembatasan gerak pekerja di sektor informal.

    David menambahkan persiapan akan barang kebutuhan pokok serta logistik akan berantakan dalam kondisi lockdown. Apalagi saat ini banyak daerah membutuhkan alat-alat kesehatan.


    "Kalau dilockdown kan arus lalu lintas manusia dan barang kan jadi agak susah. Termasuk kesehatan, kalau rumah sakit enggak ada kesehatan gimana?" ucapnya.

    Kemudian persiapan mengenai pekerja-pekerja informal, sedangkan mayoritas masyarakat masih bergantung pada upah harian. Mereka bisa memenuhi kebutuhan hidup jika mereka bekerja. Kondisi tersebut berbeda dengan negara lain.

    "Ini harus ada mitigasi juga dari pemerintah. Bagaimana caranya, misalnya di Amerika Serikat ada BLT (Bantuan Langsung Tunai) sekitar USD1.000 per orang. Tapi kita kemampuan bujet minim. Itu perlu dipikirkan," sebutnya.

    Hingga saat ini beberapa negara yang sudah memberlakukan kebijakan lockdown di antaranya Spanyol, Malaysia, Italia, Prancis, Denmark, Irlandia, Belanda, dan Belgia. Negara-negara tersebut dinilai David memiliki kesiapan yang matang sehingga risiko dari penerapan lockdown bisa diminialisir.

    "Ini memang negara-negara yang secara infrastruktur sudah disiapkan sebelumnya. Seperti di Wuhan sudah disiapkan rumah sakitnya, logistik makanannya, militernya," ujarnya.

    Lebih lanjut tanpa persiapan matang, diyakini akan memunculkan kekecewaan dan ketidakpuasan yang berujung pada keamanan suatu negara. "Karena kalau dari sisi lockdown itu kalau misalnya ada kecewaan, ketidakpuasan, logistik tidak jalan, itu konsekuensinya ke keamanan. Nah, ini kan perlu dipikirkan dengan matang," tukasnya.




    (Des)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id