comscore

Redam Fluktuasi Harga Komoditas Global, Pemerintah Bisa Lakukan Ini

Desi Angriani - 31 Desember 2021 17:30 WIB
Redam Fluktuasi Harga Komoditas Global, Pemerintah Bisa Lakukan Ini
Ilustrasi komoditas batu bara. Foto: AFP/Mohamed Abed.
Jakarta: Pusat Kajian Iklim Usaha dan Rantai Nilai Global LPEM FEB UI mencatat sejumlah strategi telah diterapkan pemerintah dalam meredam dampak fluktuasi harga komoditas dunia.

Misalnya kenaikan harga batu bara, pemerintah menerapkan kebijakan Domestic Market Obligation (DMO). Sistem DMO tahun ini mensyaratkan untuk setiap produksi batu bara, minimal sebanyak 25 persen ditujukan untuk kebutuhan dalam negeri dengan harga dipatok sebesar USD70 per ton.

 



Pada November 2021, harga batu bara untuk pembangkit listrik tetap di USD70 per ton, sedangkan untuk industri pupuk dan semen di USD90 per ton.

Sementara itu, kenaikan bahan bakar minyak (BBM) dengan memberikan subsidi untuk jenis BBM tertentu. Hingga November 2021, realisasi subsidi energi mencapai Rp102,5 triliun, atau naik 15,7 persen dari periode yang sama di 2020.

"Salah satu pemicu kenaikan tersebut adalah konsumsi dan harga minyak dunia yang naik di 2021. Kenaikan konsumsi juga terjadi pada gas (LPG) 3 kg dan listrik golongan subsidi," tulis laporan LPEM FEB UI, Jumat, 31 Desember 2021.

Melihat praktik yang lumrah diterapkan di banyak negara maju, masih ada beberapa strategi lain yang dapat dicoba oleh Indonesia:

Mempopulerkan instrumen komoditas berjangka (forward contract) untuk beragam komoditas.

Esensi dari instrumen ini adalah antara penjual dan pembeli bersepakat untuk melakukan transaksi di suatu waktu di masa mendatang, dengan harga yang disepakati sejak awal. Kewajiban sisi penjual adalah melakukan pengiriman atas komoditas yang dijual pada jangka waktu yang disepakati.

Secara umum, terdapat tiga fungsi dari instrumen berjangka yakni sarana lindung nilai bagi penjual dan pembeli, sarana pembentukan harga, dan instrumen investasi alternatif.

"Solusi instrumen komoditas berjangka ini adalah cara yang karena proses pembentukan harga tetap terjadi melalui mekanisme pasar dengan intervensi pemerintah yang minimum. Dengan kata lain, pasar tidak menjadi terdistorsi dari proses ini," demikian sebagaimana tertulis.

Pemerintah dapat mempertimbangkan pembentukan cadangan komoditas nasional sebagaimana peran Perum Bulog untuk beras.

Solusi semacam ini banyak dilakukan negara besar seperti Amerika Serikat (AS). Misalnya, AS bersama berbagai negara besar lainnya seperti Tiongkok, India, Jepang, Korea Selatan, dan Inggris, memutuskan untuk melepas cadangan nasionalnya untuk menjaga stabilitas harga di dalam negeri masing-masing.

Di Indonesia, peranan semacam ini dimainkan oleh Perum Bulog untuk menjaga stabiltias pasokan dan harga beras di pasar domestik. Ke depan, Indonesia dapat mempertimbangkan kehadiran lembaga semacam Bulog yang berperan sebagai penjaga stabilitas pasokan dan harga komoditas lainnya.

Perbaikan sistem DMO.

Pada sistem DMO yang ada saat ini ditetapkan kuota, sebesar 25 persen produksi batu bara wajib digunakan untuk konsumsi dalam negeri, dengan harga USD70 per ton untuk pembangkit listrik, dan USD90 per ton untuk industri semen dan pupuk.

Di sisi lain, jika harga jatuh di bawah USD70 atau USD90 per ton, maka transaksi mengikuti harga pasar. Dengan kata lain, kebijakan DMO hanya berlaku satu arah sehingga kebijakan ini memiliki titik lemah dari keadilan (fairness) bagi pemasok batu bara.

Langkah yang dapat dilakukan adalah membuat kebijakan DMO berlaku dua arah, sehingga patokan harga yang dibuat menjadi adil bagi pemasok maupun pengguna. Persoalan kedua adalah besaran capping ini membuat distorsi pasar yang terlalu tajam ketika harga naik secara signifikan dari angka patokan tersebut.

Hal yang dapat dilakukan untuk mengurangi distorsi di antaranya dengan penerapan capping harga proporsional. Misalnya, dapat ditetapkan harga patokan DMO domestik adalah 35 persen di bawah harga internasional.

"Dengan demikian, nilai capping akan tetap fluktuatif mengikuti pergerakan di pasar, namun dengan tetap memberikan kemudahan bagi industri nasional yang menggunakan batu bara sebagai input," tulis LPEM FEB UI.

(AHL)

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

 

 

Komentar

LOADING
Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

  1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
  2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
  3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
  4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

Anda Selesai.

Powered by Medcom.id