Ini Alasan Proyek Pipa Gas Cirebon-Semarang Mangkrak 14 Tahun

    Suci Sedya Utami - 14 Oktober 2020 22:29 WIB
    Ini Alasan Proyek Pipa Gas Cirebon-Semarang Mangkrak 14 Tahun
    Kepala BPH Migas M Fanshurullah Asa (kanan). Foto: Medcom.id/Annisa Ayu.
    Jakarta: Badan Pengatur Hulu Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) menyatakan pasokan gas yang belum jelas membuat proyek pipa transmisi gas Cirebon-Semarang (Cisem) mangkrak selama 14 tahun.

    Kepala BPH Migas M Fanshurullah Asa menjelaskan sebenarnya untuk pasokan gas dalam skala kecil bisa saja diusahakan dari Lapangan Jambaran Tiung Biru (JTB) sebesar 20 juta standar kaki kubik (mmscfd) atau pasokan LPG dari Bontang serta bisa juga terintegrasi dengan ruas pipa Dumai-Singapura.

    Hanya saja, hal ini akan mengubah rencana awal besaran ruas pipa yang akan berpengaruh pada perhitungan tarif pengangkutan gas melalui pipa (toll fee). Perubahan toll fee itu yang menjadi pertimbangan pemenang lelang proyek Cisem, PT Rekayasa Industri (Rekind) untuk melanjutkan proyek.

    Dalam rencana awal, toll fee yang ditetapkan perusahaan sebesar USD0,36 per million british thermal unit (MMBTU) dengan kapasitas gas 350-500 mmscfd. Namun dengan kondisi saat ini, toll fee tersebut sudah sesuai nilai keekonomian.

    "Ada pengaruhnya pada nilai toll fee, karena toll fee diambil dari besaran investasi dan ongkos operasional dibagi volume gas yang tersalurkan. Kalau volume gas yang tersalurkan kecil, maka toll fee-nya akan semakin besar," kata Ifan, sapaan akrab dirinya, dalam konferensi pers, Rabu, 14 Oktober 2020.

    Selain itu, kendala pasokan juga terjadi karena adanya ego sektoral. Di awal, pipa Cisem mendapatkan pasokan dari Kalimantan, namun tersendat karena gejolak pelanggaran distribusi gas dari Kelimantan ke Jawa.

    Di sisi lain, Ifan mengatakan pada saat dilelang 2016 silam, proyek tersebut dirancang untuk memenuhi kebutuhan gas bumi di wilayah Jawa Tengah yang diperkirakan akan tumbuh.

    Namun, Rekind melihat pertumbuhan industri yang akan akan menyerap gas dari ruas pipa tersebut belum sesuai yang diperkirakan. Hal ini membuat Rekind mempertimbangkan ulang untuk menggarap proyek tersebut.

    "Di samping hulu, juga demand di hilir. Batang yang diresmikan Jokowi itu masih lahan anak semua. Ada juga Balongan butuh gas, itu belum ada HOA-nya. Potenisnya ada, tapi memang belum berjalan," jelas dia.

    Dalam kesempatan yang sama, Komite BPH Migas Jugi Prajogio menyebut mandeknya proyek ini juga disebabkan oleh ketidakkonsistenan pemerintah dalam melaksanakan Rencana Induk Jaringan Transmisi dan Distribusi Gas Bumi Nasional (RIJTDGBN). Salah satunya soal moratorium yang tidak memiliki target untuk menyelesaikan proyek ini sehingga bisa mangkrak selama belasan tahun.

    "Kita harus fair bahwa di rencana induk ada pasokan gas dari Bontang. Begitu BPH berikan ruas, gas hilang. Pemerintah pun wanprestasi tidak konsisten dengan rencana induk dan ada moratorium yang tidak ada targetnya," jelas Jugi.

    (AHL)


    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id