Cegah Stunting, Kemenperin Dorong Konsumsi Olahan Ikan

    Husen Miftahudin - 15 Oktober 2021 11:21 WIB
    Cegah <i>Stunting</i>, Kemenperin Dorong Konsumsi Olahan Ikan
    Ilustrasi ikan hasil tangkapan para nelayan - - Foto: dok KKP



    Jakarta: Kementerian Perindustrian (Kemenperin) turut berperan dalam pencegahan stunting melalui upaya peningkatan konsumsi produk hasil pengolahan ikan. Ikan merupakan salah satu sumber pangan lokal yang dapat dikembangkan karena sehat dan kaya akan kandungan gizi mikro.

    "Ikan merupakan komoditas yang kaya akan gizi dan mudah dijumpai di sekitar kita," kata Plt. Direktur Jenderal Industri Agro Kemenperin Putu Juli Ardika dalam siaran persnya, Jumat, 15 Oktober 2021.

    Kandungan yang terdapat dalam ikan:

    1. Protein
    2. Lemak
    3. Minyak ikan
    4. Vitamin A, D, B6, B12
    5. Mineral
    6. Yodium
    7. Zat besi
    Berbagai kandungan tersebut diyakini dapat mengatasi masalah kekurangan zat gizi mikro pada masyarakat. Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar 2018, Indonesia merupakan salah satu negara yang mengalami beban ganda gizi.

    "Beban ganda gizi tersebut adalah kekurangan zat gizi mikro yang menyebabkan stunting yang kemudian menimbulkan kerugian ekonomi negara sebesar dua hingga tiga persen dari PDB (Produk Domestik Bruto) per tahun," jelasnya.

     



    Pemerintah sendiri menargetkan prevalensi stunting turun 14 persen pada 2024. Prevalensi stunting di Indonesia pada 2014 berada pada angka 37 persen dan berhasil ditekan hingga mencapai angka 27,6 persen pada 2019.

    Putu mengungkapkan bahwa pemerintah berupaya menanggulangi permasalahan stunting melalui program suplementasi, upaya perubahan perilaku konsumsi masyarakat agar mengonsumsi sumber makanan yang beragam dan kaya akan kandungan gizi termasuk zat gizi mikro serta sehat dan aman, termasuk fortifikasi pangan.

    "Solusi yang paling dekat adalah mengupayakan konsumsi ikan karena Indonesia mempunyai potensi perikanan yang sedemikian besar," terangnya.

    Adapun konsumsi ikan nasional terus mengalami peningkatan seiring dengan pertumbuhan penduduk Indonesia. Konsumsi ikan nasional naik dari 47,34 kg per kapita per tahun pada 2017 menjadi 54,50 kg per kapita per tahun pada 2019, dan pada 2021 konsumsi ikan nasional ditargetkan sebesar 60 kg per kapita per tahun.

    "Konsumsi ikan di negara kita perlu terus ditingkatkan. Selain karena kandungan zat gizi mikronya yang bermanfaat bagi masyarakat yang mengkonsumsinya, Indonesia sebagai negara kepulauan memiliki potensi produksi ikan yang sangat banyak," tegas Putu.

    Ia menambahkan, industri pangan olahan masih memiliki potensi yang besar untuk dikembangkan. Dari data konsumsi pangan olahan, baru 30 persen sumber daya yang diolah, masih ada potensi 70 persen yang dapat dikembangkan untuk menciptakan lapangan kerja baru.

    "Oleh karena itu, Kemenperin mendorong pengembangan industri pengolahan ikan agar lebih produktif dan inovatif. Jika kita mampu merevitalisasi dan mengembangkan industri makanan dan minuman, termasuk industri pengolahan pangan, maka akan membantu dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan pemenuhan gizi masyarakat," papar dia.

    Apalagi, unit usaha sektor industri makanan minuman didominasi oleh skala usaha kecil dan mikro. "Sebanyak 99,54 persen dari total unit usaha sektor industri mamin merupakan skala usaha kecil dan mikro, sisanya merupakan skala menengah besar," pungkas Putu.


    (Des)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id