Erick Minta BUMN Ramai-ramai Tanam Modal di Startup Nasional

    Insi Nantika Jelita - 06 Oktober 2021 08:39 WIB
    Erick Minta BUMN Ramai-ramai Tanam Modal di <i>Startup</i> Nasional
    Menteri BUMN Erick Thohir - - Foto: dok Kementerian BUMN



    Jakarta: Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir menuturkan sudah ada lima perusahaan pelat merah berinvestasi di startup.

    Lima BUMN itu ialah Telkom yang berinvestasi di 57 startup, Telkomsel 15 startup, BRI 15 startup dan Mandiri Capital 15 startup, dan disusul dengan rencana BNI untuk masuk ke perusahaan teknologi ini.

     



    Staf khusus menteri BUMN Arya Mahendra Sinulingga menjelaskan langkah itu dilakukan untuk menandingi dominasi perusahaan modal ventura asing yang banyak berinvestasi di startup Indonesia.


    "Kita teriak-teriak akan asing, tapi tidak juga masuk investasi ke startup. Sementara salah satu potensi untuk masuk ke sana yaitu dari BUMN. Maka Menteri BUMN mengatakan BUMN harus masuk ke venture capital. Ini harus disolidkan, supaya fokus kepada startup yang punya potensi besar, punya ciri khas Indonesia yang memang dibutuhkan, tidak hanya di fintech, e-commerce, tapi juga teknologi sebagainya," kata Arya dalam dialog virtual, dikutip Rabu, 6 Oktober 2021.

    Peluang BUMN menjadi venture capital bisa kepada sektor startup pertanian, untuk kebutuhan pangan, juga bisa di edutech startup untuk pendidikan yang menjangkau wilayah yang lebih luas.

    "Jadi jangan mengutuk (asing), tapi kita tidak membuat apa-apa. Makanya BUMN harus masuk. Asing masuk, artinya peluang startup itu besar. Bila menunggu nanti terus, startup keburu menjadi besar, menjadi mahal dan justru harganya tidak bisa terbeli lagi. Kalau kita terus ketakutan, jangan berharap startup Indonesia bisa dimiliki oleh negeri sendiri. Padahal konsumennya kita sendiri," jelasnya.

    Membandingkan, Singapura menyatakan akan memberi insentif hingga USD1,5 miliar bagi perusahaan teknologi/unicorn yang mau IPO di bursa Singapura (SGX). Berkaca pada Singapura yang memberikan insentif besar bagi startup untuk melantai di bursa (SGX), PT Bursa Efek Indonesia juga melakukan sejumlah upaya untuk mempermudah startup mencatatkan perusahaannya di pasar saham, seperti yang sudah dilakukan startup e-commerce Bukalapak.

    Beberapa terobosan yang dilakukan, antara lain rancangan Peraturan OJK tentang Saham Hak Suara Multipel (RPOJK SHSM). OJK bersama dengan SRO Pasar Modal (BEI, KPEI, KSEI) terus melakukan pembahasan bersama dalam penyusunan Rancangan Peraturan OJK (RPOJK) tentang Penerapan Klasifikasi Saham Dengan Hak Suara Multipel Oleh Emiten Dengan Inovasi Dan Tingkat Pertumbuhan Tinggi Yang Melakukan Penawaran Umum Efek Bersifat Ekuitas.

    "Pada 8 Juni 2021 lalu, OJK telah melakukan proses Rule Making Rule (RMR) untuk mendapatkan masukan dan tanggapan dari publik. Tentunya kita berharap bahwa RPOJK tersebut akan segera terbit di tahun ini, sehingga dapat menjawab kebutuhan dari para stakeholders di pasar modal dan tetap mengutamakan perlindungan investor publik," jelas Nyoman.

    Saat ini BEI sedang dalam proses memperbarui Peraturan I-A untuk membukakan pintu-pintu masuk baru yang dapat dimanfaatkan oleh berbagai sektor industri, termasuk perusahaan teknologi yang valuasinya sudah mencapai Centaur, Unicorn, dan Decacorn, dengan tetap memperhatikan kualitas Perusahaan Tercatat.

    Peraturan itu nantinya diharapkan dapat mengakomodasi perusahaan-perusahaan dengan karakteristik baru yang nilainya tidak terbatas pada Net Tangible Asset (NTA).


    "Bisa dari NTA, laba (income), pendapatan (revenue), kapitalisasi pasar (market capitalization), dan/atau cash flow. BEI berharap RPOJK SHSM dan revisi Peraturan Bursa Nomor I-A dapat segera disahkan dan diterbitkan tahun ini, serta dapat segera digunakan oleh stakeholder Pasar Modal Indonesia," terangnya.

    BEI secara proaktif melakukan one on one session dengan perusahaan teknologi di Indonesia untuk melakukan diskusi dan mendengar kebutuhan mereka terkait opsi menggalang dana di Pasar Modal Indonesia.

    "Kami berkomitmen untuk menjadikan Bursa Efek Indonesia sebagai house of growth bagi seluruh karakteristik perusahaan-perusahaan potensial di Indonesia dengan menjadi Bursa yang adaptif dan kompetitif. Tentunya kami berharap para perusahaan teknologi buah karya anak bangsa tersebut memilih Bursa Efek Indonesia sebagai home-listing mereka," pungkas Nyoman.

    (Des)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id