Kemenperin Pastikan Operasional dan Mobilitas Industri Baja saat PPKM Level 4

    Suci Sedya Utami - 27 Juli 2021 06:12 WIB
    Kemenperin Pastikan Operasional dan Mobilitas Industri Baja saat PPKM Level 4
    Ilustrasi industri baja. Foto: AFP.



    Bekasi: Kementerian Perindustrian (Kemenperin) terus memastikan penerapan protokol kesehatan dan Izin Operasional dan Mobilisasi Kegiatan Industri (IOMKI) di sejumlah sektor industri manufaktur. Salah satunya industri baja yang tergolong kritikal atau esensial dalam masa Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Level 4.

    Selain untuk mendorong percepatan penanganan dan pengendalian pandemi covid-19, langkah strategis ini juga diharapkan menjaga aktivitas produksi di sektor industri, sehingga mampu memenuhi kebutuhan pasar domestik maupun ekspor.

     



    "Pemantauan ini sekaligus menyosialisasikan penerbitan Surat Edaran Menteri Perindustrian Nomor 3 Tahun 2021 tentang Operasional dan Mobilitas Kegiatan Industri pada Masa Kedaruratan Kesehatan Masyarakat Covid-19," kata Direktur Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi, dan Elektronika (ILMATE) Kemenperin, Taufiek Bawazier saat mengunjungi perusahaan baja PT AM/NS Indonesia di Kawasan MM2100, Cibitung, Bekasi, dikutip dalam keterangan resminya, Selasa, 27 Juli 2021.

    Taufiek menegaskan industri baja merupakan salah satu sektor strategis karena produksinya dijadikan sebagai bahan baku untuk menopang sejumlah aktivitas sektor lainnya. Oleh karena itu, industri baja punya peran penting atau sering disebut juga sebagai mother of industries.

    Taufiek mengatakan dalam kondisi pandemi, utilitas PT AM/NS Indonesia berjalan 100 persen karena didukung pasar ekspor, termasuk ke Amerika Serikat. Saat ini, ekspornya mencapai 13 ribu ton di Juni 2021 atau meningkat dibandingkan Januari yang mencapai 2.000 ton untuk produk CRC dan baja lapis. Di sisi lain, PT AM/NS Indonesia juga telah melaksanakan program vaksinasi Gotong Royong tahap pertama yang diikuti sebanyak 397 pekerja.

    "Guna memacu kinerja sektor industri baja, kami terus berupaya untuk menjaga ketersediaan bahan baku serta mengatasi kesulitan logistik dari shipping company," ujar Taufiek.

    Kontribusi signifikan

    Industri baja selama ini memberikan kontribusi signfikan bagi perekonomian nasional, mulai dari peningkatan pada investasi, penyerapan tenaga kerja, hingga sumbangsih nilai ekspornya. Pada triwulan I-2021, industri logam dasar, barang logam, bukan mesin dan peralatannya sebagai kelompok penyumbang terbesar pada penanaman modal di sektor manufaktur dengan mencapai nilai Rp27,9 triliun (berkontribusi 12,7 persen).

    Selain itu, pada Januari-Maret 2021, nilai ekspor industri logam dasar tercatat sebesar USD5,87 miliar atau naik tujuh persen dibanding capaian di periode yang sama tahun lalu mencapai USD5,48 miliar.

    "Artinya, industri baja terus memberikan kontribusi besarnya bagi penerimaan devisa, terutama dalam proses hilirisasi atau peningkatan nilai tambah bahan baku di dalam negeri," tutur Taufiek.

    Meskipun di tengah hantaman dampak pandemi covid-19, permintaan terhadap produk baja di pasar ekspor mengalami peningkatan hingga kuartal pertama tahun ini seiring dengan berjalannya kegiatan konstruksi.

    Taufiek mengemukakan, hampir seluruh negara mengalami penurunan produksi baja pada 2020 karena dampak pandemi. Namun hal tersebut tidak terjadi di beberapa negara, seperti Tiongkok yang produksinya justru meningkat 5,2 persen. Berikutnya, produksi baja di Turki meningkat enam persen, Iran meningkat 13 persen, dan Indonesia mampu meningkat hingga 30,25 persen dibandingkan pada 2019.

    Adapun kemampuan industri baja nasional, tercemin dari kapasitas produksi bahan baku baja nasional (slab, billet, bloom) saat ini lebih dari 13 juta ton dengan perkiraan produksi pada 2020 sebesar 11,6 juta ton atau meningkat 30,25 persen dibanding 2019 yang mencapai 8,9 juta ton. Selain itu, utilisasi pada 2020 juga meningkat hingga 88,38 persen dari 2019 sebesar 67,86 persen.

    "Sektor industri baja merupakan indikator perekonomian suatu negara. Artinya, kalau industri bajanya tumbuh, tentunya ekonomi kita bisa terbangun dengan kuat. Selain itu, yang penting adalah kita harus mengoptimalkan produk-produk dalam negeri," tegas dia.

    Seiring dengan kebijakan substitusi impor sebesar 35 persen pada 2022 yang diinisiasi oleh Kemenperin, Indonesia berhasil menekan impor baja hingga 34 persen pada 2020 dibanding tahun-tahun sebelumnya.

    (AHL)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id