Survei Pasar Harus Jadi Acuan Petani Bali Berproduksi

    Antara - 21 Juli 2021 12:20 WIB
    Survei Pasar Harus Jadi Acuan Petani Bali Berproduksi
    Pertanian. foto : MI/Ramdani.



    Denpasar: Anggota Dewan Perwakilan Daerah Made Mangku Pastika mengingatkan petani Bali dalam memproduksi berbagai komoditas pertanian haruslah mengacu hasil survei pasar agar produk yang dihasilkan terserap dengan baik.

    "Namun, petani kita sering memulainya dari memproduksi, tanpa melihat pasarnya, apakah diperlukan atau tidak? Jangan sampai kita bekerja keras, tetapi tidak menghasilkan," katanya dikutip dari Antara, Rabu, 21 Juli 2021.

     



    Saat penyerapan aspirasi virtual bertajuk "Pemasaran Produk Pertanian" dengan narasumber komunitas Bangga Jadi Petani (Bajatani) Bali, dia melihat seringkali generasi muda enggan menjadi petani karena masih dipandang sebagai profesi yang kotor dan susah untuk membuat sejahtera.

    Padahal, di tengah pandemi covid-19 saat ini, sektor pertanian yang masih tetap tumbuh dan turut menyelamatkan ekonomi Bali dari kontraksi yang lebih dalam lagi.

    Oleh karena itu, mantan Gubernur Bali dua periode tersebut, mengingatkan warga bahwa terjun ke usaha pertanian bukan hanya sebatas menanam atau produksi, namun juga menyangkut pascapanen, distribusi, pengemasan, hingga bagaimana barang sampai konsumen.

    "Jadi, ada faktor harga, siapa yang disasar, bagaimana barang sampai ke konsumen serta apa apresiasi konsumen menjadi kunci di bisnis ini. Ini yang disebut marketing mix," ucap dia.

    Di sisi lain, menurut Pastika, basis data penting dalam pertanian.

    "Jangan sampai kita surplus malah impor akibat tak didukung data yang valid. Seperti halnya Indonesia yang belakangan ini surplus beras hingga tujuh juta ton, justru harus mengimpor beras lagi sehingga berdampak merugikan petani dan menguras devisa," katanya.

    Ia mengatakan pertanian harus dijalankan secara profesional dan menjadi primadona, sehingga tidak terus dipandang sebagai sektor terbelakang.

    "Sebaliknya harus menjadi yang terdepan, sebab orang perlu makan (hasil pertanian)," ujarnya.

    Mantan Kapolda Bali itu menambahkan pemerintah melalui Kementerian Pertanian juga mengadakan pelatihan sejuta petani milenial. Di samping itu, Kementerian Pertanian tahun ini mengembangkan 1.655 UPPO (Unit Pengolahan Pupuk Organik), namun sampai sekarang baru terealisasi 350 unit.

    "Jadi kalau Bali mau organik, kita harus banyak punya unit itu dan apalagi ini dibiayai Kementerian," katanya.

    Ketua Baja Tani Bali I Nyoman Herianta berharap Mangku Pastika bisa menjembatani kepentingan petani baik dari sisi permodalan termasuk informasi di pusat yang bisa meningkatkan SDM dan sektor pertanian di Bali.

    "Petani kita misalnya sudah bisa memproduksi pupuk organik. Namun terkendala perizinan sehingga pemasarannya terbatas. Selain itu, potensi pertanian di Bali masih besar, bahkan banyak lahan belum tergarap," ucapnya.

    Sekretaris Baja Tani Bali Ngurah Adnyana mengatakan pengembangan pertanian masih terkendala basis data untuk memetakan potensi di setiap wilayah sehingga bisa diketahui keunggulannya.

    Perwakilan kelompok usaha tani dari Kabupaten Jembrana juga mengaku terkendala modal untuk bisa menampung produk petani dalam jumlah besar untuk ekspor. Atas sejumlah masukan tersebut, Pastika menyatakan akan berupaya maksimal membantu akses modal petani melalui Jamkrida Bali Mandara.

    "Coba ajukan pinjaman ke bank, nanti ada Jamkrida yang bisa memfasilitasi dengan bank jika memang ada kendala terkait agunan," katanya.


    (SAW)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id