Modernisasi Jalan Tol, Berhasilkah Cegah Penularan Korona?

    Desi Angriani - 03 Maret 2021 22:16 WIB
    Modernisasi Jalan Tol, Berhasilkah Cegah Penularan Korona?
    Petugas Jasa Marga membantu pengendara melakukan transaksi nontunai menggunakan e-toll - - Foto: Antara/ Yulius Satria Wijaya



    Jakarta: Gerakan transaksi nontunai di gardu-gardu tol tak sekadar menjadi simbol transformasi bisnis maupun modernisasi sistem pembayaran.

    Lebih jauh, elektronifikasi yang mulai digencarkan PT Jasa Marga (Persero) Tbk sejak tiga tahun lalu tersebut memberi dampak besar terhadap pencegahan penularan virus korona. Padahal sebelum diluncurkan, program elektronifikasi tol ini sempat menuai pro dan kontra.






    Jika gardu tol saat ini masih menggunakan transaksi manual, dipastikan interaksi antara pengendara dan petugas di gardu-gardu tol akan menambah jumlah kasus covid-19 di Tanah Air.

    Diketahui kasus covid-19 di Indonesia bertambah 6.808 per hari ini, 3 Maret 2021. Total pasien covid-19 mencapai 1.353.834 orang. Dari jumlah tersebut, sebanyak 343.808 kasus konfirmasi positif di sumbang oleh wilayah DKI Jakarta.

    Selain menekan penyebaran virus korona, terdapat beberapa manfaat lain dari transaksi nontunai di jalan tol. Di antaranya mengurangi antrean karena waktu transaksi dengan uang elektronik lebih cepat hingga tiga detik dibanding transaksi tunai.
     
    Kemudian transaksi lebih aman karena tidak perlu menyiapkan uang tunai, transaksi lebih praktis, cukup dengan menempelkan kartu uang elektronik. Lalu transaksi lebih akurat sehingga mengurangi risiko kesalahan pengembalian uang.

    Payung elektronifikasi ini berawal dari Gerakan Nasional Non-Tunai (GNNT) yang dicanangkan Bank Indonesia pada 14 Agustus 2014 silam. Lalu kebijakan tersebut bakal disempurnakan dengan penerapan Multi Lane Free Flow (MLFF) pada 2022 mendatang.

    MLFF merupakan proses pembayaran tol tanpa henti yakni pengguna jalan tol tidak harus menghentikan kendaraan di gerbang tol layaknya ruas tol yang ada di Singapura. Tahapan menuju pengembangan MLFF tersebut memang harus didahului dengan terwujudnya perilaku pengguna jalan tol yang sudah terbiasa dengan pembayaran nontunai.

    Untuk pemberlakuan transaksi elektronik di seluruh gerbang tol, Jasa Marga merujuk pada keputusan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) No.16/KPTS/M/2017 dengan menyediakan alat top-up dan Gardu Tol Otomatis (GTO) layak fungsi. Jasa Marga juga menggandeng Himpunan Bank-bank Milik Negara (Himbara) dalam penyediaan kartu uang elektronik atau e-toll.

    Corporate Communication & Community Development Group Head Jasa Marga Dwimawan Heru menyebut elektronifikasi tol merupakan salah satu pencapaian perusahaan pelat merah yang mendominasi pengelolaan jalan tol tersebut. Apalagi menuju kenormalan baru, semua bidang usaha diharuskan melakukan inovasi dan transformasi bisnis.

    Namun, khusus layanan top up tunai kartu e-toll ditutup sementara di seluruh gerbang tol Jabodetabek sejak Maret 2020 sebagai langkah antisipasi pengendalian virus korona.

    "Bisa dibayangkan kalau pada 2017 kita belum memberlakukan elektronifikasi jalan tol, maka akan sangat tinggi sekali risiko penularan antara para karyawan Jasa Marga dengan pengguna jalan karena masih melakukan transaksi manual," ujar Heru dalam diskusi daring, Rabu, 27 Mei 2020.

    Sementara itu, Kepala Badan Pengatur Jalan Tol ( BPJT) Danang Parikesit memastikan tarif tol tidak akan berubah ketika pemerintah memberlakukan Multi Lane Free Flow (MLFF). Implementasi sistem ini justru akan menguntungkan masyarakat pengguna jalan tol, serta meningkatkan efisiensi biaya operasional.

    Adapun uji coba bayar tol tanpa henti ini akan dilakukan pada 41 ruas tol yang tersebar di Pulau Jawa dan Bali. "Kemudian untuk implementasinya secara bertahap dimulai pada tahun 2022 dan penerapannya berdasarkan lingkup wilayah dan tidak per ruas tol," kata Danang dalam dalam konferensi pers virtual BPJT, Selasa, 2 Februari 2021.

    Inovasi dan kenormalan baru

    Direktur Utama Jasa Marga Subakti Syukur mengakui penurunan volume lalu lintas yang cukup signifikan sejak diberlakukannya kebijakan pembatasan sosial berdampak pada kinerja perseroan.

    Perolehan laba bersih Jasa Marga pada kuartal III-2020 hanya sebesar Rp157,6 miliar atau turun 89,49 persen dari periode sama di tahun sebelumnya yang mencapai Rp1,50 triliun.

    Untuk itu, Jasa Marga melakukan efisiensi dan pengendalian beban usaha dan belanja modal serta menyiapkan skema untuk menjaga likuiditas. Termasuk melakukan transformasi dan inovasi pada semua lini bisnis. Apalagi kenormalan baru mengharuskan hadirnya konsep digital dalam layanan konsumen.

    "Untuk itulah dalam semangat 43 tahun Jasa Marga, kami terus berinovasi dan mengawal transformasi. Untuk mendukung transformasi, kami turut memaksimalkan pemanfaatan teknologi pada semua level dan lini bisnis. Diharapkan hal ini menjadi katalis lahirnya inovasi-inovasi baru lainnya, mengakselerasi pengembangan teknologi, dan meningkatkan pelayanan yang lebih baik lagi ke depannya," katanya dikutip dari laman resmi Jasa Marga, Rabu, 3 Maret 2021.

    Sebagai bentuk peningkatan pelayanan kepada pengguna jalan, Jasa Marga meluncurkan aplikasi Travoy 3.0 dan Jasa Marga Toll Road Command Center (JMTC). Inovasi di bidang teknologi ini berfungsi sebagai asisten digital dengan fitur daftar tarif tol, hingga derek online.

    Kemudian mengembangkan perangkat Automatic Vehicle Classification (AVC) yakni sistem sensor yang digunakan untuk mengklasifikasikan kendaraan yang melewati sebuah gerbang tol sesuai dengan golongannya secara otomatis

    Corporate Secretary Jasa Marga M. Agus Setiawan menambahkan Jasa Marga juga melakukan uji coba terbatas pembayaran tol nirsentuh berbasis server dengan teknologi Radio-Frequency Identification (RFID) yang dikenal dengan nama Let It FLO.

    Dalam bidang informasi lalu lintas, saat ini Jasa Marga sedang mengembangkan platform Intelligent Transport System (ITS) yang terintegrasi dengan suatu pusat pengendali lalu lintas (command center) sebagai upaya untuk mempercepat pengambilan keputusan manajemen lalu lintas.

    Dari bidang human capital, Jasa Marga menyiapkan Internet Of Things Laboratory sebagai pusat riset dan pengembangan inovasi. Hal tersebut diyakini akan mendukung bisnis perusahaan di masa depan serta meningkatkan kompetensi dan kinerja Roadster Jasa Marga.

    "Kami juga mengembangkan Traffic Information Center menjadi Command Center yang saat ini diberi nama dengan JMTC sebagai pusat pengendali lalu lintas yang berbasis pada Intelligent Transportation System. Nantinya melalui JMTC kami akan berkoordinasi dengan para stakeholder (Korlantas Polri, Kementerian Perhubungan, dan Kementerian PUPR) untuk pengambilan keputusan rekayasa lalu lintas serta penegakan hukum berbasis IT di jalan tol," tutur dia.

    Saat ini Jasa Marga mengelola dan mengoperasikan setidaknya 13 hak pengusahaan (konsesi) jalan tol melalui delapan kantor cabang dan satu anak perusahaan yakni; Jalan tol Jagorawi, Jalan Tol Jakarta-Tangerang, Jalan Tol Jakarta- Cikampek, Jalan Tol Dalam Kota Jakarta.

    Kemudian Jalan Tol Prof. Dr.Ir. Sedyatmo, Jalan Tol Serpong-Pondok Aren (dioperasikan oleh JLJ), Jalan Tol Cikampek -Purwakarta-Cileunyi, Jalan Tol Padalarang-Cileunyi, Jalan Tol Palimanan-Kanci, Jalan Tol Semarang, Jalan Tol Surabaya Gempol, Jalan Tol Belawan-Medan-Tanjung Morawa, Jalan Tol Lingkar Luar Jakarta (dioperasikan oleh JLJ).

    (Des)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id