Investasi di Sektor Transportasi dan Energi Terbarukan Jadi Prioritas LPI

    Annisa ayu artanti - 08 Mei 2021 17:58 WIB
    Investasi di Sektor Transportasi dan Energi Terbarukan Jadi Prioritas LPI
    Ilustrasi proyek Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) - - Foto: Antara Rosa Panggabean



    Jakarta: Sovereign Wealth Fund (SWF) atau Lembaga Pengelola Investasi (LPI) Indonesia bakal memprioritaskan sektor energi terbarukan (EBT) untuk penanaman modal selain proyek infrastruktur transportasi.

    Dewan Pengawas Indonesia Investment Authority (INA) Darwin Cyril Noerhadi menyebut tren investasi dunia saat ini sudah mengarah pada proyek-proyek ramah lingkungan atau Environmental, Social and Governance (ESG).

     



    "Jadi kalau kita lihat market dunia terhadap renewable demikian meningkat pesat. Trennya di dunia itu dari kaca mata investor itu adalah disebut ESG," katanya dalam
    diskusi The Ensight dengan tema “Sovereign Wealth Fund: Mewujudkan Pendanaan Berkelanjutan dalam Meningkatkan Ketahanan Energi”, Sabtu, 8 Mei 2021.

    Darwin menjelaskan sejak United Nation menggaungkan pentingnya ESG, investor global mulai memberi persyaratan agar setiap investasi yang akan dikucurkan berbasis ramah lingkungan.

    "Ini semakin ketat dan semakin tinggi minatnya. Jadi kalau prioritas dari kacamata kita SWF, pada saat kita mencari mitra, mereka akan lihat ada nggak yang renewable. Jadi renewable menjadi daya tarik sendiri," tutur dia.

    Namun demikian, ia tidak menyebutkan spesifik alokasi dana yang bakal dikucurkan oleh INA untuk proyek-proyek energi baru terbarukan tersebut. Adapun alokasinya masih bergantung pada bobot prioritas proyek lain seperti transportasi.

    "Tentu alokasinya itu tergantung dari bobot prioritas-nya dari kacamata infrastruktur lain. Transportasi di Indonesia menjadi prioritas karena menjadi persoalan nomor tiga," jelasnya.

    Pada kesempatan yang sama,  Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM Dadan Kusdiana menyebut proyek energi baru terbarukan yang bisa mendapatkan dana segar INA ialah pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS).


    Pembangunan PLTS akan mengejar target 23 persen porsi energi baru terbarukan pada Bauran Energi Nasional di 2025.

    "Tapi yang menjadi dorongan kita sekarang dalam jangka pendek itu sebenarnya PLTS. surya karena dari sisi waktu kita mau mengejar target 23 persen di 2025," pungkas Dadan.

    Ketua Dewan Pengawas Purnomo Yusgiantoro Center (PYC) Inka B. Yusgiantoro menambahkan kehadiran INA akan memberi harapan dan semangat baru bagi Indonesia khususnya untuk dapat membantu mobilisasi dana dari dalam maupun luar negeri.

    Investasi tersebut dapat dimanfaatkan dalam berbagai kesempatan investasi yang ada di Indonesia, termasuk di sektor energi baru dan terbarukan (EBT). Sebab, kata Inka, selama ini pengembangan dan pemanfaatan EBT di Indonesia cukup terhambat akibat dari sulitnya mendapatkan pembiayaan proyek EBT itu sendiri.

    “Kami melihat bahwa salah satu penyebab terhambatnya pertumbuhan sektor EBT di Indonesia selama ini adalah sulitnya mendapatkan pembiayaan untuk proyek EBT. Sehingga salah satu harapan pemangku kepentingan Indonesia untuk alternatif sumber pembiayaan adalah melalui INA,” ujar Inka

    (Des)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id