comscore

5 Peristiwa Besar Ekonomi di 2021

Ade Hapsari Lestarini - 27 Desember 2021 12:55 WIB
5 Peristiwa Besar Ekonomi di 2021
Ilustrasi. Foto: AFP.
 

Virus delta guncang pemulihan ekonomi

Munculnya virus covid-19 varian Delta pada pertengahan tahun ini membuat pemulihan ekonomi negara-negara di dunia menjadi tersendat. Bank Pembangunan Asia (ADB) mengatakan kebangkitan ekonomi negara-negara berkembang Asia tahun ini dapat terhambat oleh penyebaran cepat varian delta. Proyeksi itu muncul ketika ADB mendesak ekonomi untuk beradaptasi dengan normal baru setelah covid-19 guna menopang pemulihan.

Namun demikian, varian Delta dinlai bukan menggagalkan pemulihan ekonomi tapi hanya menunda. Varian virus ini sempat mengancam negara-negara yang rentan, terutama di pasar negara berkembang. Negara yang rentan itu memiliki sistem perawatan kesehatan yang masih harus berjuang untuk mengatasi lonjakan kasus, tingkat vaksinasi tetap rendah, penguncian yang kembali diberlakukan, dan anggaran fiskal yang ketat membatasi pengeluaran sosial.
Pejabat Kepala Ekonom ADB Joseph Zveglich dalam sebuah pernyataannya sempat mengatakan negara-negara berkembang Asia tetap rentan terhadap pandemi covid-19, karena varian baru memicu wabah, yang mengarah pada pembatasan baru pada mobilitas di beberapa negara.

ADB mengatakan jalur pemulihan di kawasan itu tetap tidak merata mengingat berbagai tingkat kemajuan negara-negara dalam mengatasi pandemi. Tiongkok berada di jalur untuk tumbuh 8,1 persen tahun ini, dengan laju ekspansi diproyeksikan melambat menjadi 5,5 persen tahun depan.

Garuda Indonesia

Bangkrut! Itu yang dikatakan Wakil Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) II Kartika Wirjoatmodjo terkait kondisi terkini PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk. Tiko, begitu dia disapa, menjelaskan secara teknikal maskapai penerbangan pelat merah tersebut sebenarnya sudah bangkrut.

Dia mengatakan hal tersebut lantaran Garuda saat ini sudah tidak membayarkan seluruh kewajiban jangka panjangnya seperti global sukuk dan sebagian gaji karyawan yang ditahan.

"Kalau istilah perbankan sebenarnya sudah technically bankrupt, tapi legally belum. Ini yang sekarang kita sedang berusaha bagaimana keluar dari situasi yang technically bankrupt karena practically semua kewajiban Garuda tidak dibayar," ujarnya dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Komisi VI DPR RI, Selasa, 9 November 2021.

Saat ini ekuitas Garuda negatif USD3 miliar atau sekitar Rp42 triliun (kurs Rp14.300 per USD). Adapun asetnya senilai USD6,92 miliar (Rp98,670 triliun) dan liabilitas sebesar USD9,756 miliar (Rp139,5 triliun).

(AHL)



Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

 

 

 

Komentar

LOADING
Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

  1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
  2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
  3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
  4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

Anda Selesai.

Powered by Medcom.id