Kecombrang Jadi Komoditas Ekspor RI untuk Pertama Kalinya

    Media Indonesia - 11 Juni 2020 16:38 WIB
    Kecombrang Jadi Komoditas Ekspor RI untuk Pertama Kalinya
    Kecombrang jadi komoditas ekspor Indonesia untuk pertama kalinya. Foto: dok Kementan.
    Jakarta: Badan Karantina Pertanian Kementerian Pertanian (Kementan) telah memfasilitas sertifikasi ekspor bunga kecombrang yang dikirim ke Malaysia melalui Pelabuhan Belawan, Medan.

    Kepala Balai Besar Karantina Pertanian Belawan, Hasrul, menjelaskan untuk pertama kalinya, Kementerian Pertanian melalui Badan Karantina Pertanian (Barantan) memfasilitasi sertifikasi ekspor bunga kecombrang.

    "Di pengiriman yang perdana ini persyaratan teknisnya kami kawal ketat supaya bisa diterima di negara tujuan," kata Hasrul, Kamis, 11 Juni 2020.

    Adapun komoditas yang dikirim sebanyak 90 kilogram senilai Rp6 juta milik CV SP dengan tujuan Malaysia. Mengingat komoditas ini baru pertama kali dikirim, menurut Hasrul, pihaknya meminta eksportir untuk menambahkan pendingin.

    Hal itu untuk mengantisipasi kerusakan berupa kisut dan layu akibat karakteristik bunga serta jarak sentra ke negara tujuan. Bentuknya berupa kantongan es batu di setiap kemasan dan mengatur suhu container cold storage di kisaran 1-4°Celcius agar kondisinya terjaga.

    Biasanya, bunga kecombrang atau dengan nama latin, Etlingera elatior, digunakan oleh masyarakat di Sumatra Utara sebagai bahan penyedap masakan. Dengan wangi yang khas, kecombrang tidak hanya lezat, tetapi juga diyakini memiliki kandungan nutrisi yang kaya dan tinggi serat.

    Hasrul melanjutkan, dari data klinik ekspor mereka, selain kecombrang terdapat setidaknya dua komoditas ekspor baru yang lain. Yakni gula kelapa dan labu beku. Mulai awal tahun hingga Mei 2020, gula kelapa mencatatkan dua kali pengiriman sebanyak total 58,3 ton bernilai Rp1,03 miliar dengan negara tujuan Brasil dan Yunani.

    Sementara labu beku mencatatkan tiga kali ekspor ke Toongkok dan Malaysia sebanyak total 8,4 ton dengan nilai Rp228,9 juta.

    Terpisah, Kepala Barantan Ali Jamil mengatakan sejalan dengan gerakan tiga kali ekspor (Gratieks) yang digagas Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo, pihaknya melakukan sinergisitas dengan seluruh pihak.

    Baik instansi di Pusat, daerah, maupun para pelaku usaha, termasuk petani. Selain menyiapkan bimbingan teknis sanitari dan fitosanitari, pihaknya juga membuka layanan klinik ekspor. Lewat layanan itu masyarakat bisa langsung datang ke kantor karantina pertanian di Tanah Air terdekat untuk mendapatkan akses informasi peta potensi ekspor pertanian.

    "Bagi eksportir produk pertanian kami prioritaskan. Kami berharap ini dapat mendorong tumbuhnya ragam komoditas dan ekspotir baru sekaligus," ujarnya. (Yoseph Pencawan)

    (AHL)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id