comscore

YLKI: Masyarakat Jangan Bermigrasi ke Gas Melon

Antara - 07 Maret 2022 19:21 WIB
YLKI: Masyarakat Jangan Bermigrasi ke Gas Melon
Ilustrasi gas melon atau gas elpiji 3 kilogram. Foto: MI/ Andri Widiyanto
Jakarta: Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) mengimbau pengguna elpiji 5,5 kilogram (Bright Gas) dan 12 kilogram untuk tidak beralih ke gas melon (elpiji 3 kilogram). Sebab, gas melon hanya diperuntukkan bagi keluarga miskin. 

"Kami dari YLKI mengimbau agar masyarakat pengguna elpiji non-PSO untuk tidak melakukan migrasi. Hal itu melanggar hak pengguna elpiji 3 kilogram," kata Ketua YLKI Tulus Abadi, seperti dilansir dari Antara, Senin, 7 Maret 2022. 
Tulus mengingatkan, jika masyarakat bermigrasi ke gas melon, maka akan mengurangi hak keluarga miskin dan pelaku usaha mikro, kecil, dan ultra mikro. Pasalnya, pola distribusi gas melon sudah ditetapkan berdasarkan kuota. Dan kuota tersebut jumlahnya sudah ditetapkan sejak awal. 

Karena itulah Tulus berpendapat pemerintah harus turun tangan. Dalam hal ini, pemerintah bisa membuat sistem distribusi tertutup, bukan terbuka seperti sekarang.  

"Supaya tidak ada yang bermigrasi karena pembeliannya benar-benar diawasi. Elpiji 3 kilogram hanya buat keluarga miskin dan pelaku usaha mikro, kecil, dan ultra mikro. Dengan demikian, kuota aman dan sesuai dengan peruntukannya," kata dia. 

Baca: Jual Elpiji 3 Kg di Atas HET, Siap-siap Kena Sanksi

YLKI memahami kenaikan harga elpiji non-PSO. Dalam hal ini, penyesuaian Bright Gas dan elpiji 12 kilogram memang sepenuhnya kebijakan korporasi Pertamina yang tidak bisa diintervensi pihak lain. Terlebih, dalam dua tahun terakhir produk jenis tersebut memang sama sekali belum mengalami penaikan. Padahal di sisi lain, harga gas dunia terus mengalami penyesuaian. 

"Meski kebijakan tersebut murni aksi korporasi, namun harus dipertimbangkan juga dampaknya di masyarakat. Terutama, potensi migrasi pengguna dari gas elpiji non-PSO  dan gas melon. Sebab, disparitas harganya sangat tinggi," kata dia.

Selain itu, yang berbahaya adalah praktik pengoplosan. "Potensi praktik ini perlu diantisipasi dengan saksama. Selain tindakan ilegal, juga sangat membahayakan masyarakat,” ujarnya.


(UWA)

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

 

 

 

Komentar

LOADING
Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

  1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
  2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
  3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
  4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

Anda Selesai.

Powered by Medcom.id