Saat PKI Bangkit, Indonesia Tengah Dilanda Kelaparan

    Wandi Yusuf - 23 September 2020 10:37 WIB
    Saat PKI Bangkit, Indonesia Tengah Dilanda Kelaparan
    Sejumlah warga yang tergabung dari berbagai organisasi masyarakat Jawa Timur berunjuk rasa menolak kebangkitan PKI di Surabaya, Jawa Timur, Kamis (13/8). Foto: Antara/Zabur Karuru.
    Jakarta: Periode tahun 50-an merupakan era bangkitnya kembali Partai Komunis Indonesia (PKI). Hanya dalam kurun sembilan tahun, di bawah pimpinan Dipa Nusantara Aidit (DN Aidit), keanggotaan PKI meruyak dari hanya sekitar 3.000 anggota pada 1950, menjadi 1,5 juta anggota pada 1959.

    Namun, di periode yang sama, masyarakat Indonesia justru tengah menderita kelaparan. Catatan Pierre van der Eng, seperti dikutip dalam buku Jejak Rasa Nusantara karya Fadly Rahman, kelaparan menyebar dari Sumatra hingga Nusa Tenggara.

    Dilaporkan, pada November hingga Mei periode 1951-1952, masyarakat Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Nusa Tenggara mengalami kelaparan. Musababnya adalah panen yang rendah dan membuat masyarakat menderita malnutrisi.

    Pada periode 1952 hingga 1955, malnutrisi akibat kelaparan juga terjadi di Banyuwangi, Jawa Timur; dan Nusa Penida, Bali. Kelaparan juga terjadi di Indramayu, Jawa Barat; Banjarnegara, Pekalongan, Pemalang, dan Wonogiri, Jawa Tengah; Jember, Jawa Timur; hingga Luwu, Sulawesi Selatan.

    Pada September hingga April periode 1957-1958, kelaparan dipicu adanya pemberontakan, arus pengungsian, hingga lahan terbengkalai. Hal itu terjadi terutama di Kendari, Sulawesi Tenggara, dan Ambon, Maluku.

    Hasil telaahan Fadly, kelaparan dipicu salah satunya karena kelangkaan beras. "Di saat konsumsi beras masyarakat Indonesia kian luas saat itu, jumlah produksi beras dalam negeri justru tidak mencukupi. Adapun harga beras impor di pasar lokal tinggi," tulis Fadly.
    Saat PKI Bangkit, Indonesia Tengah Dilanda Kelaparan
    Ilustrasi beras. Foto: MI/Jhony Kristian

    Majalah mingguan Star Weekly yang terbit pada 1955 mencatat, pada awal 1950 terjadi kekacauan perimbangan antara permintaan dan penawaran beras di pasaran dunia. Di saat produksi beras dalam negeri turun drastis, produksi beras internasional justru tengah tinggi.

    Alhasil, Indonesia terpaksa mengimpor beras sebanyak 334 ribu ton. Impor ini ternyata tak menyelesaikan masalah karena harga beras dari luar negeri begitu tinggi. Kelaparan tetap saja melanda.

    "Bencana kelaparan sepanjang tahun 50-an ini bahkan ditulis surat kabar lokal bahkan asing," tulis Fadly.
     

    Halaman Selanjutnya
      Propaganda Empat Sehat Lima…
    • Halaman :
    • 1
    • 2
    Read All


    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id