Perbedaan Kondisi UMKM Saat Ini dengan Krisis 98

    Ilham wibowo - 02 Juni 2020 12:29 WIB
    Perbedaan Kondisi UMKM Saat Ini dengan Krisis 98
    Ilustrasi UMKM. Dok. MI
    Jakarta: Pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) perlu tetap optimistis menghadapi masa sulit pandemi covid-19. Peluang agar sektor ini tetap bertahan dan tumbuh kembali diyakini tetap ada.

    Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki mengatakan bahwa situasi UMKM secara nasional pada saat pandemi covid-19 berbeda dengan UMKM pada saat krisis moneter 1998. Kala itu, UMKM menjadi penyelamat ekonomi nasional dengan peningkatan ekspor hingga 350 persen.

    “Saat ini, justru UMKM yang sangat terdampak”, kata Teten melalui keterangan tertulisnya, Selasa, 2 Juni 2020.

    Ribuan UMKM telah melaporkan keluhannya melalui call center Kemenkop UKM. Menurut Teten, pelaku UMKM terkena dampak baik dari sisi permintaan, pasokan dan pemasaran.  

    “Dari sisi pasokan juga menyangkut SDM yang turun, juga harga bahan baku meningkat," ucap Teten.

    Teten memaparkan bahwa pihaknya sudah merumuskan lima langkah untuk menjawab masalah-masalah tersebut, yaitu program bantuan sosial untuk usaha ultra mikro, insentif pajak, stimulus pembiayaan dan pinjaman baru yang dipermudah. Selain itu, perusahaan BUMN juga lebih banyak dilibatkan sebagai penyangga bagi produk-produk sektor pertanian dan perikanan.

    Selain dorongan dari Pemerintah, masyarakat juga perlu bergotong royong dalam menjalankan disiplin pencegahan wabah covid-19. Pasalnya, bantuan yang diberikan berlaku terbatas yakni hingga September 2020 dan akan semakin memberatkan APBN apabila penukaran wabah terus meningkat.

    “Saat ini pun kita sudah defisit, pemerintah sudah menerbitkan Perppu untuk mencari pinjaman baru, menerbitkan surat utang, dan itu bukan hal yang mudah," ungkapnya.

    Lebih lanjut, Teten melihat selama Pembatasan Sosial Bersekala Besar (PSBB) ada perilaku konsumen yang berubah terutama dalam pemenuhan kebutuhan primer. Penjualan di e-commerce mulai Maret 2020 terus meningkat hingga 18 persen, kebutuhan masyarakat akan makan dan minum selama PSBB paling banyak dari UMKM naik 52,6 persen, keperluan sekolah naik 34 persen dan masker serta hand sanitizer naik 29 persen.

    “Saya melihat banyak pelaku UMKM melakukan adaptasi dan bisnis terhadap permintaan baru. Saya optimis, UMKM selalu fleksibel dan dinamis untuk melihat peluang usaha baru," kata Teten.

    Meski demikian, Teten mengakui bahwa UMKM yang terhubung dengan market online ini baru sekitar 13 persen atau sekitar delapan juta pelaku usaha. Sementara 70 persen lainnya belum terhubung karena tidak memiliki infrastruktur dasar termasuk minim literasi.

    Teten sudah meminta para pelaku e-commerce untuk membuka laman UMKM di market mereka supaya produk UMKM semakin banyak dijual di market online agar tidak didominasi produk impor. Selain itu, bagi UMKM yang belum terhubung dengan sistem pembiayaan akan bisa langsung masuk ke program relaksasi.

    Teten berharap Komite Pengusaha Mikro Kecil Menengah Indonesia Bersatu (Kopitu) bisa turut mendorong mereka yang selama ini belum pernah mendapat pembiayaan dari perbankan atau KUR atau ke koperasi simpan pinjam. Aktivasi dan perluasan penyerapan pasar juga menjadi program Pemerintah selama ini untuk mendorong perbaikan UMKM agar bisa naik kelas.

    “Walaupun nanti sudah terhubung dengan market online, tidak berarti serta-merta penjualan langsung meningkat. Konsolidasi UMKM ini menjadi hal penting untuk dilakukan," pungkasnya. 



    (DEV)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id