Ekonomi Tiongkok Beranjak Pulih, Harga Batu Bara Acuan Naik

    Suci Sedya Utami - 04 Januari 2021 19:43 WIB
    Ekonomi Tiongkok Beranjak Pulih, Harga Batu Bara Acuan Naik
    Ilustrasi. Foto: AFP
    Jakarta: Harga Batu Bara Acuan (HBA) terus menujukkan tren positif pada awal 2021. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif menetapkan HBA untuk perdagangan Januari sebesar USD75,84 per ton.

    Level tersebut naik USD16,19 per ton dibandingkan pada Desember 2020 yang sebesar USD59,65 per ton. Kepala Biro Komunikasi, Layanan Informasi Publik, dan Kerja Sama (KLIK) Kementerian ESDM Agung Pribadi mengonfirmasi terkait faktor kuat kenaikan komoditas batu bara tersebut.

    "Setelah hampir setahun adanya keterbatasan aktivitas ekonomi, pasar mulai bergerak pulih," ujarnya melalui keterangan tertulis, Senin, 4 Januari 2021.

    Agung mengatakan Tiongkok punya peran penting dalam mempengaruhi harga batu bara. Hal itu lantaran negeri Tirai Bambu tersebut merupakan pasar utama batu bara bagi Indonesia setelah India. Apalagi, saat ini terjadi ketegangan hubungan perdagangan antara Tiongkok dengan Australia. Sentimen ini yang makin memperkuat harga komoditas tersebut.

    Kenaikan ini membuat pergerakan HBA bergerak menuju level psikologis setelah sepanjang 2020 tertekan pandemi covid-19 dan mengalami pelemahan ke level terendah.

    "Rata-rata HBA di 2020 hanya sebesar USD58,17 per ton dan menjadi yang terendah sejak 2015," ujar Agung.

    Secara spesifik, Agung merinci harga batu bara dibuka pada angka USD65,93 per ton pada Januari 2020. Sempat menguat sebesar 0,28 persen di angka USD67,08 per ton pada Maret dibandingkan Februari 2020 yang sebesar USD66,89 per ton, namun merosot pada April (USD65,77), Mei (USD61,11), Juni (USD52,98), Juli (USD52,16), dan Agustus (USD50,34).

    "Puncaknya ada di September di mana harganya hanya USD49,42 per ton," ungkap Agung,

    Harga batu bara kembali pulih dalam tiga bulan terakhir, yaitu Oktober (USD51), November (USD55,71), dan Desember (USD59,65).

    "Supply dan demand tetap menjadi faktor perubahan (harga) utama di luar covid-19 yang belum sepenuhnya terkendali," jelas dia.

    Adapun faktor turunan supply dipengaruhi oleh season (cuaca), teknis tambang, kebijakan negara supplier, hingga teknis di supply chain seperti kereta, tongkang, maupun loading terminal.

    Sementara untuk faktor turunan demand dipengaruhi oleh kebutuhan listrik yang turun berkorelasi dengan kondisi industri, kebijakan impor, dan kompetisi dengan komoditas energi lain, seperti LNG, nuklir, dan hidro. 

    (DEV)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id