4 Strategi Dunia Usaha Hadapi Resesi

    Suci Sedya Utami - 28 September 2020 18:11 WIB
    4 Strategi Dunia Usaha Hadapi Resesi
    Ilustrasi. Foto: Medcom.id
    Jakarta: Resesi ekonomi tengah membayangi Indonesia. Berbagai prediksi menyebutkan apabila di kuartal ketiga pertumbuhan ekonomi kembali negatif, maka sudah dipastikan Indonesia akan mengalami resesi.

    Kendati demikian, dunia usaha menilai resesi di Tanah Air bukanlah sesuatu yang aneh, mengingat negara di seluruh dunia juga mengalami hal yang sama akibat kegiatan ekonomi yang berhenti. Namun yang terpenting yakni bagaimana bisa bertahan (survive) di tengah badai resesi.

    "Enggak banyak yang bisa dilakukan kecuali survival," kata Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Hariyadi Sukamdani pada Medcom.id, Senin, 28 September 2020.

    Haryadi mengatakan terdapat empat strategi yang biasanya dilakukan dunia usaha saat kondisi ekonomi berat seperti saat ini. Pertama strategi wait and see. Ibarat sebuah video ada tombol pause. Apabila situasinya bagus, maka pengusaha akan masuk. Namun bila jelek maka dia akan menghentikan operasional dan menunggu momen yang tepat untuk melanjutkan kembali.

    Kedua strategi pivot. Pivot merupakan istilah dalam olahraga basket yakni ketika pemain menggerakkan tubuhnya ke arah mana saja untuk melempar bola. Dalam dunia usaha, misalnya di sektor perhotelan yang memiliki dapur, akan mulai menggarap bisnis kuliner secara online selain bisnis sewa kamar yang saat ini sedang lesu.

    "Artinya dia mendiversifikasi tapi masih in line dengan kegiatan utamanya. Misal ada teman saya yang jualan oksigen dan nitrogen untuk RS, dia ubah jadi disinfektan karena dia punya kemampuan dari bahan baku pabriknya buat disinfektan," tutur Haryadi.

    Strategi ketiga yakni bundling dan fair sale. Pengusaha cenderung berkolaborasi dan bersinergi dengan pengusaha lainnya untuk menawarkan produk mereka dalam satu paket pada konsumen. Misalnya produk A, B, dan C diikat dalam satu paket dan dijual dengan harga murah.

    Strategi ini, kata Haryadi, mulai akan diterapkan oleh industri di sektor pariwisata. Misalnya Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) berkolaborasi dengan Asosiasi Penerbangan Indonesia/ Indonesia Nation Air Carriers Association (Inaca).

    "Inaca punya seat, PHRI punya kamar. Sama-sama dijual dengan harga murah. Ini lagi proses, kita lagi nunggu, kemungkinan AirAsia yang paling maju, karena kan harus dijual di web mereka. Mudah-mudahan dalam waktu dekat bisa dieksekusi," ujar Haryadi.

    Strategi keempat yakni blue ocean yakni membuat inovasi dari usaha yang lain dari pada umumnya. Misalnya membuat PCR test dengan waktu yang singkat. Strategi ini umumnya dilakukan oleh perusahaan yang berbasis teknologi.

    Lebih lanjut, Haryadi mengatakan ekonomi tidak akan kembali sebelum virus korona bisa ditangani. Bayak dunia usaha yang memilih untuk menahan kegiatannya karena permintaan menurun.

    (DEV)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id