Fleksibilitas Kontrak Migas Diharapkan Tarik Investasi Masuk RI

    Suci Sedya Utami - 24 November 2020 20:13 WIB
    Fleksibilitas Kontrak Migas Diharapkan Tarik Investasi Masuk RI
    Kilang Migas. Foto ; AFP.
    Jakarta: Pemerintah telah memberikan fleksibilitas kontrak bagi hasil untuk kontraktor kontrak kerja sama (KKKS) minyak dan gas bumi (Migas) untuk memilih skema dalam bentuk cost recovery, gross split, maupun skema kontrak lainnya.

    Direktur Jenderal Migas Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Tutuka Ariadji mengatakan pemberian fleksibilitas tersebut diharapkan akan menarik minat investor di hulu migas untuk masuk dan menanamkan dananya di Indonesia.

    Tutuka mengatakan fleksibilitas tersebut diberikan untuk memberikan kenyamanan bagi KKKS agar bisa memilih dan menghitung keekonomian lapangan migas yang dioperasikan agar menguntungkan sesuai portofolio masing-masing perusahaan dan juga lapangan.

    "Tentunya akan dibandingkan dengan kelebihan dan kekurangan masing-masing skema itu. Harapannya dengan demikian lebih menarik investor," kata Tutuka dalam economic challenges Metro TV seperti dikutip Selasa, 24 November 2020.

    Tukuka mengatakan selain itu, pemerintah juga memberikan kesempatan bagi KKKS terkait keterbukaan data serta berbagai jenis insentif lainnya. Harapannya bisa memacu investasi di hulu migas lebih besar.

    Ia bilang di tahun ini saja kendati covid-19, pemerintah masih bisa mempertahankan penurunan investasi migas hanya USD500 juta dari USD12,2 miliar ke USD11,7 miliar.

    "Jadi kondisi yang sulit masih bisa mempertahankan itu, harapannya ke depannya bisa menarik dengan perubahan-perubahan kebijakan tadi, makin bergairah sambil menunggu harga minyak yang naik,"  jelas Tutuka.

    Dalam kesempatan yang sama Direktur Utama PT Medco Energi Hilmi Panigoro mengatakan KKKKS sangat terbuka dengan kebijakan pemerintah yang memberikan fleksibilitas kontrak. Namun fleksibilitas tersebut harus dibaca lebih jauh yakni dengan disesuaikan pada masing-masing lapangan migas. Sebab tidak bisa satu skema diaplikasikan ke seluruh lapangan.

    "Kita harus lihat satu per satu mana yang harus dipertahankan, mana yang harus di-develop, mana yang pakai EOR," tutur Hilmi.

    Selain itu, untuk menarik investasi, lanjut Hilmi, dua hal yang harus diperhatikan yakni pertama investor membutuhkan kepastian secara ekonomi apakah lapangan yang dikembangkan menarik.

    "Kedua secara kontrak dia dijamin keberadaannya," jelas Hilmi.  

    (SAW)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id