Irigasi Perpompaan Bantu Petani Tingkatkan Hasil Panen

    Gervin Nathaniel Purba - 12 Mei 2021 13:26 WIB
    Irigasi Perpompaan Bantu Petani Tingkatkan Hasil Panen
    Ilustrasi rehabilitasi jaringan irigasi. (Foto: Antara/Makna Zaezar)



    Gowa: Kementerian Pertanian (Kemntan) saat ini tengah mengembangkan irigasi perpompaan dan perpipaan. Jenis irigasi tersebut bertujuan untuk memanfaatkan potensi sumber air permukaan sebagai suplesi air irigasi bagi komoditas tanaman pangan, hortikultura, perkebunan, dan budidaya ternak.

    Irigasi perpompaan dan perpipaan dapat meningkatkan intensitas pertanaman dan luas areal tanam, meningkatkan produktivitas pertanian, pendapatan dan kesejahteraan petani, dan memanfaatkan potensi sumber air permukaan sebagai air irigasi. Baik di daerah irigasi maupun non-daerah irigasi.

     



    Menurut Direktur Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian (PSP) Kementan Sarwo Edhy, kegiatan irigasi perpompaan dan perpipaan diprioritaskan pada lokasi kawasan pertanian yang sering mengalami kendala atau kekurangan air irigasi. Terutama pada musim kemarau.

    Petani di Desa Panciro, Kecamatan Bajeng, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan, memanfaatkan jenis irigasi perpompaan dan perpipaan. Hasilnya, para petani panen tiga kali dalam satu tahun.

    Mereka memanfaatkan pompa air untuk mengairi lahan persawahan. Irigasi perpompaan yang dilaksanakan di Kabupaten Gowa sangat membantu petani dalam mengairi sawahnya. 

    Kepala Desa Panciro Anwar Dg Malolo menjelaskan, saat ini terdapat 100 pompa air untuk mengairi lahan persawahan tersebut. Beberapa di antaranya berupa bantuan dari pemerintah. Tetapi ada juga pengadaan secara swadaya dari para petani.

    "Panciro sebagai wilayah penyanggah dari kota Metropolitan Makassar, sehingga ada sekitar 40 persen jumlah penduduk sekitar 9.000 jiwa bekerja dan mencari hidup di Makassar," ujar Anwar, dikutip keterangan tertulis, Rabu, 12 Mei 2021.

    Saat ini terdapat 13 Kelompok Tani (Poktan) di Panciro. Masing-masing Poktan beranggotakan 25 petani.

    "Masing-masing Gapoktan itu mengelola lahan sekitar 25 hektare (ha). Malah ada yang lebih dan jadi total lahan areal pertanian tanaman padi sekitar 500 ha. Rata-rata sekali panen mampu menghasilkan gabah sebanyak 500 ton," kata Anwar. 

    Anwar mengatakan, Desa Panciro merupakan daerah penyanggah, sehingga setiap saat butuh lahan untuk pemukiman. Perjalanan waktu lahan lahan pertanian itu hampir setiap saat mengalami penyusutan karena alih fungsi lahan menjadi pemukiman dan kebutuhan.

    "Warga Desa Panciro cukup banyak yang bekerja di sektor informal, seperti buruh bangunan tukang batu, tukang kayu, penjual keliling, dan pekerjaan lainnya,” katanya.

    (ROS)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id