Isu Lingkungan Hidup dan Kehutanan Masih Kurang Diperhatikan Negara

    Gervin Nathaniel Purba - 27 Juli 2021 18:58 WIB
    Isu Lingkungan Hidup dan Kehutanan Masih Kurang Diperhatikan Negara
    Ilustrasi. Foto: MI/Susanto



    Jakarta: Wakil Ketua Komisi IV DPR Dedi Mulyadi menilai isu lingkungan hidup dan kehutanan masih kurang diperhatikan oleh penyelenggara negara. Menurutnya, isu ini baru diperhatikan jika bencana alam sudah terjadi.

    "Ini sudah menjadi tradisi dalam kebiasaan kita. Kalau terjadi bencana, baru sadar untuk membicarakan lingkungan. Kalau tidak, tidak ada yang bicara," ujar Dedi dalam webinar Media Group News Summit Series bertajuk Indonesia Green Summit 2021 Bergerak Selamatkan Bumi, Selasa, 27 Juli 2021.

     



    Dia mengambil contoh peristiwa banjir di Kalimantan baru-baru ini. Dari situ, pemerintah baru memeriksa data hutan yang masih berfungsi. Setelah bencana berangsur pulih, tidak ada lagi pembicaraan lebih lanjut.

    Kurangnya perhatian ini menurut Dedi disebabkan adanya perubahan cara pandang dalam menyikapi masalah. Hutan yang tadinya dipandang sebagai kekuatan spiritual oleh masyarakat, sekarang dipandang sebagai kekuatan ekonomi.

    Meskipun dipandang sebagai kekuatan ekonomi, Dedi menilai belum ada data yang menunjukkan seberapa besar hutan memberikan keuntungan terhadap kehidupan masyarakat.

    "Belum ada data yang disajikan untuk menyampaikan bahwa hutan secara ekonomi memiliki nilai ini. Berapa kubik air yang diperoleh. Hitung berapa kubik irigasi yang sudah diairi. Berapa hasil oksigen yang dihasilkan," katanya.

    Koordinator Institut Hijau Indonesia Chalid Muhammad juga memandang pemerintah kerap mengedepankan kebijakan ekonomi ketika berbicara lingkungan hidup. Seolah-olah ada tarik ulur atau trade off antara kebijakan ekonomi dengan kebijakan lingkungan hidup dan kehutanan.

    "Padahal dengan pendekatan ekonomi sirkular tidak perlu lagi trade off," kata Chalid.

    Menurut pandangan Chalid, ada perubahan orientasi dari pemerintah dalam menjaga lingkungan hidup. Hal ini malah menyebabkan adanya pemberlakuan tidak adil antara rakyat kecil dengan pengusaha besar.

    "Pengusaha besar kerap diizinkan untuk mengeksploitasi alam dalam melakukan ekspansi bisnis. Sementara rakyat kecil tertindas dan mereka dikriminalisasi," ujar Chalid.
     

    (DEV)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id