comscore

Penerapan Blockchain Dinilai Mampu Sokong Perekonomian Indonesia

Husen Miftahudin - 20 Mei 2022 14:36 WIB
Penerapan <i>Blockchain</i> Dinilai Mampu Sokong Perekonomian Indonesia
Ilustrasi. Foto: AFP.
Jakarta: CEO Indodax Oscar Darmawan mengatakan teknologi blockchain memiliki penerapan yang luas dan berperan penting dalam pertumbuhan ekonomi, khususnya di masa industri 4.0 seperti saat ini sebagai era yang didirikan melalui integrasi antarteknologi dan mengedepankan transparansi.

Terlebih banyak developer lokal di Indonesia yang membangun proyek yang didasari oleh teknologi blockchain untuk menyambut kesiapan perekonomian di sektor industri digitalBlockchain pada prinsipnya diciptakan untuk melengkapi sistem perekonomian sehingga industri menjadi lebih efisien, lebih mudah digunakan, dan juga lebih transparan.
"Blockchain merupakan sebuah buku besar yang didalamnya terdapat catatan historis sebuah data dan bersifat transparan. Dengan adanya teknologi blockchain, bukan tidak mungkin ini bisa turut memajukan industri di Indonesia," ujar Oscar dalam keterangan tertulisnya, Jumat, 20 Mei 2022.

Oscar menjelaskan, sifat blockchain bisa diterapkan di banyak sektor dan aman karena memiliki proteksi yang tinggi dan sistem yang immutable (tetap dan tidak bisa diubah), efisien karena sistemnya yang terdesentralisasi, transparan, serta traceable karena dapat memberikan manfaat yang luas bagi masyarakat.

Teknologi blockchain memiliki beberapa use case yang bisa digunakan di berbagai macam industri. Misalnya dalam industri perbankan yang bisa diterapkan untuk transaksi perbankan antarnegara sehingga bisa lebih efisien dan murah, sektor pemerintahan untuk digitalisasi pencatatan dokumen kependudukan atau pencatatan bukti kepemilikan tanah dan properti.

"Tidak hanya itu, blockchain juga bisa diterapkan untuk sektor IoT seperti mobil self driving. Juga sektor kesehatan untuk pencatatan rekam medis pasien sehingga ketika pasien berobat di rumah sakit yang berbeda, datanya bisa tercatat karena sistem blockchain yang terdesentralisasi ataupun sektor seni dalam bentuk NFT," paparnya.

Melihat sifat teknologi blockchain yang terdesentralisasi, konsep web 3.0 pun sama-sama mengedepankan transparansi dan desentralisasi. "Web 3.0 merupakan kemajuan internet, di masa yang akan datang situs web dapat memproses informasi dengan lebih mandiri, dan transparan juga terintegrasi antara satu dengan yang lainnya," ungkap Oscar.

Oscar menambahkan, Web 3.0 ini sering disebut sebagai era read, write, and own, para pengguna dapat terlibat secara langsung dalam kepemilikan suatu aset serta dapat memiliki kontrol yang lebih besar. Hal ini berbeda dengan sistem Web 2.0 (yang disebut sebagai era read and write), yakni orang hanya dapat mengonsumsi, memproduksi, dan membagikan konten pada suatu platform.

Meskipun demikian, Oscar mengakui penerapan teknologi blockchain masih ada beberapa hambatan yang dirasa harus diselesaikan terlebih dahulu. PR utama bagi pelaku industri yang berkecimpung di blockchain adalah permasalahan edukasi dan literasi.

Pasalnya, masyarakat masih lebih mengenal kripto ketimbang blockchain meskipun keduanya sangat berhubungan satu dengan yang lainnya. Hal ini menjadi tantangan  bagi para pelaku industri blockchain untuk lebih meningkatkan edukasi kepada khalayak dengan bahasa yang sesederhana mungkin dan sesering mungkin.

"Jika masyarakat semakin mengenal teknologi blockchain, saya yakin masyarakat akan semakin terbuka terhadap teknologi ini karena melihat sifat serta kelebihannya yang banyak memberikan benefit," tutup Oscar.

(HUS)

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

 

 

 

Komentar

LOADING
Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

  1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
  2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
  3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
  4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

Anda Selesai.

Powered by Medcom.id