comscore

Penyaluran Subsidi BBM Tepat Sasaran Dinilai Mampu Tekan Beban Negara

Antara - 30 Juni 2022 08:40 WIB
Penyaluran Subsidi BBM Tepat Sasaran Dinilai Mampu Tekan Beban Negara
Ilustrasi. FOTO: dok MI/PANCA SYURKANI
Jakarta: Penyaluran subsidi Bahan Bakar Minyak (BBM) secara tepat sasaran dinilai menjadi solusi yang efektif untuk menekan beban keuangan negara. Kondisi itu akibat kenaikan harga minyak mentah yang membuat harga BBM maupun LPG di pasaran juga terkerek naik.

Staf Khusus Menteri Keuangan Bidang Komunikasi Strategis Yustinus Prastowo mengatakan subsidi seharusnya diberikan kepada orang yang membutuhkan bukan kepada produk (barang) sehingga lebih tepat sasaran. Ini membutuhkan proses panjang terkait database yang mumpuni sehingga subsidi juga lebih efisien.
"Itu bicara dalam konteks normal. Saat ini situasi tidak normal," kata Yustinus, saat berbicara pada webinar Generating Stakeholders Support for Achieving Effectiveness of Fuel and LPG Subsidies, dilansir dari Antara, Kamis, 30 Juni 2022.

Selain Yustinus, hadir sebagai pembicara lainnya Anggota Komite BPH Migas Saleh Abdurrahman, Direktur Pemasaran Regional PT Pertamina Patra Niaga Mars Ega Legowo Putra, dan pengamat BUMN Toto Pranoto.

Menurut Yustinus, hingga akhir 2021 tidak pernah diramalkan perang akan terjadi antara Rusia dan Ukraina. Selain itu, tidak akan ada lonjakan harga tajam terkait komoditas termasuk minyak bumi dan dinamika kebijakan moneter di Amerika Serikat.
Baca: Ini Pengertian APBN, RAPBN, serta Proses Penyusunannya

"Ini jadi latar belakang kenapa pemerintah dan DPR tetap mempertahankan subsidi dan kompensasi dalam rangka keselamatan rakyat itu hukum tertinggi. Terlepas diskusi dan lain-lain kita fokus ke perlindungan masyarakat itulah sebabnya APBN diupayakan jadi shock absorber,” ujarnya.

Tahun ini alokasi subsidi dengan asumsi harga ICP USD100 per barel sebesar Rp74,9 triliun dan kompensasi Rp324,5 triliun. Sementara yang akan dibayarkan tahun ini alokasi anggaran yang disiapkan Rp275 triliun bergantung pada perkembangan harga global. Jika harga ICP di atas USD100 per barel atau di bawah, lanjut Yustinus, subsidi dan kompensasi akan disesuaikan.

"Dalam jangka pendek, prinsipnya pemerintah mau dukung," katanya.

Anggota Komite BPH Migas Saleh Abdurahman memproyeksikan kuota solar dan pertalite tahun ini akan habis pada September atau Oktober 2022 jika tidak ada tindakan. Berdasarkan data BPH Migas, hingga 20 Juni 2022 realisasi penyaluran solar mencapai 51,24 persen dari kuota tahun ini 15,1 juta Kiloliter (KL).

Sedangkan realisasi penyaluran pertalite mencapai 57,56 persen dari kuota sebelumnya yakni 23,05 juta KL. Salah satu cara mengendalikan penyaluran BBM subsidi dan penugasan yakni solar dan pertalite dengan memanfaatkan teknologi melalui aplikasi MyPertamina.

Hal ini dilakukan karena pemerintah dan Pertamina masih konsisten mempertahankan harga BBM jenis Solar dan Pertalite serta LPG 3 Kg tidak naik di tengah harga minyak mentah global yang terus bertahan di atas USD110 per barel.

(ABD)

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

 

 

 

Komentar

LOADING
Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

  1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
  2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
  3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
  4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

Anda Selesai.

Powered by Medcom.id