Kenaikan Cukai Rokok Terlalu Tinggi Bisa Ganggu Ekosistem Industri Hasil Tembakau

    Eko Nordiansyah - 27 Oktober 2020 15:13 WIB
    Kenaikan Cukai Rokok Terlalu Tinggi Bisa Ganggu Ekosistem Industri Hasil Tembakau
    Ilustrasi industri rokok - - Foto: MI/ Panca Syurkani
    Jakarta: Gabungan Perusahaan Rokok (Gapero) menolak kenaikan tarif cukai dan harga jual eceran yang terlampau tinggi. Kenaikan tarif cukai tahun depan ini bakal menurunkan serapan tenaga kerja dan bahan baku tembakau sehingga mengganggu ekosistem industri hasil tembakau.

    Ketua Gapero Surabaya Sulami Bahar mengatakan kenaikan tarif cukai tembakau akan menurunkan produksi yang sebenarnya sudah mengalami kejatuhan sejak pandemi. Apalagi rencananya pemerintah akan menaikkan tarif cukai hasil tembakau sebesar 13-20 persen pada 2021.

    "Kalau cukai naik sampai 17 persen itu benar, kami prediksi produksi akan terjadi penurunan sekitar 40-45 persen pada 2021," kata Sulami kepada wartawan di Jakarta, Selasa, 27 Oktober 2020.

    Selama pandemi, industri hasil tembakau (IHT) mengalami kontraksi yang cukup dalam sebesar minus 10,84 persen year on year (yoy). Sektor IHT juga mengalami kontraksi yang cukup besar yaitu minus 17,59 persen akibat menurunnya produksi rokok pada kuartal II-2020.

    Ia menambahkan, apabila cukai rokok naik mencapai 17 persen tahun depan, produksi rokok akan menurun signifikan menjadi 133,4 miliar batang dari 232 miliar batang di tahun ini. Untuk itu, Gapero meminta agar pemerintah tidak mengubah kebijakan tarif cukai yang sudah ada.

    Apalagi kenaikan cukai tembakau 2021 juga dinilai akan berdampak besar pada serapan tenaga kerja. Walau belum ada gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) saat ini, Sulami mengatakan tidak bisa menjamin serapan tenaga kerja jika cukai tembakau sangat eksesif tahun depan.

    "Secara logis kalau terjadi penurunan produksi, pasti ada rasionalisasi tenaga kerja dan penurunan serapan bahan baku. Gapero tidak menolak sepenuhnya kenaikan cukai 2021, asalkan kenaikannya tidak terlampau tinggi. Ya naik moderatlah," pungkasnya.

    Ketua Gabungan Produsen Rokok Putih Indonesia (Gaprindo) Muhaimin Moefti sebelumnya meminta pemerintah memberikan waktu pemulihan bagi pelaku industri hasil tembakau untuk bangkit dari keterpurukan akibat pandemi covid-19 dan kenaikan cukai tahun ini.

    Muhaimin berharap jangan sampai IHT dihantam lagi dengan kenaikan cukai yang tinggi pada tahun depan. Oleh karena itu, Gaprindo berharap jika tarif cukai harus naik, kenaikannya tidak sampai dua digit atau tidak melebihi 10 persen.


    "Buat kami, kalau benar naik 19 persen itu tinggi sekali, sangat berat. Kasih kami kesempatan untuk pemulihan kalau mau ada kenaikan ya yang wajar, sesuai dengan inflasi. Naik enam persen misalnya," ujar dia. 

    (Des)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id