Mentan Ajak Peternak Sapi Mojokerto Asuransikan Hewan Ternak

    Gervin Nathaniel Purba - 22 Januari 2021 11:39 WIB
    Mentan Ajak Peternak Sapi Mojokerto Asuransikan Hewan Ternak
    Mentan Syahrul Yasin Limpo. (Foto: Dok. Kementan)



    Mojokerto: Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo mengajak peternak sapi di Kabupaten Mojokerto untuk mengasuransikan hewan ternak melalui asuransi usaha ternak sapi/kerbau (AUTSK). Sebab, usaha di sektor peternakan dinilai mempunyai risiko tinggi.

    Program asuransi bertujuan melindung peternak dari kerugian akibat kematian ternak. Program AUTS/K bertujuan untuk mengamankan indukan yang selama ini banyak dipotong. Apalagi, pemerintah sudah membuat peraturan pelarangan pemotongan betina produktif.






    "Jadi, yang kami targetkan adalah komoditas yang mudah terkena risiko, yaitu sapi betina agar tetap dipertahankan untuk berkembang biak,” ujar Syahrul, dikutip keterangan tertulis, Jumat, 22 Januari 2021.

    Pada kesempatan yang sama, Direktur Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian (PSP) Kementan Sarwo Edhy juga meminta pemerintah daerah (Pemda) mendorong peternak sapi agar mengasuransikan ternaknya. Bila perlu, peternak mendapat bantuan asuransi ternak melalui dana APBD.

    “Ada keuntungan bagi peternak yang mengikuti program ini. Bila terjadi sesuatu pada hewan ternak yang diusahakan, seperti mati atau hilang karena tindak kriminal seperti pencurian, peternak akan menerima klaim uang pertanggungan (UP) sebesar Rp10 juta per ekor,” ujar Sarwo.

    Ajakan Pemda ini disambut baik peternak, sehingga setiap tahun target selalu tercapai, bahkan melampaui. Diharapkan, target tahun ini bisa tercapai dengan baik juga.

    “Pemerintah pun terus berupaya memperbaiki sistem, sehingga peternak atau petani lebih gampang ikut program asuransi,” ujar Sarwo.

    Kabid Peternakan Diperta Kabupaten Mojokerto Harini menjelaskan, AUTS/K menjamin risiko ketidakpastian mitigasi yang disebabkan kematian hewan ternak, kecelakaan, kehilangan atau kecurian, bencana alam, wabah penyakit dan fluktuasi harga, sehingga peternak sapi dapat memanfaatkan AUTSK tersebut.
     
    Dia mengatakan, dampak dari kegagalan yang diakibatkan kematian hewan ternak ini mengganggu sistem usaha budidaya ternak dan berkurangnya produksi. “Kini peternak sapi terlindung adanya asuransi usaha ternak sapi (AUTS/K) karena risiko kematian ternak sapi cukup tinggi,” kata Harini.
     
    Harini menyebut, AUTSK bertujuan untuk mempertahankan populasi ternak sapi, sehingga yang dibidik pemerintah adalah sapi betina produktif usia di atas satu tahun.
    Adapun manfaat AUTSK bagi peternak sapi yaitu memberikan ketentraman dan ketenangan, sehingga peternak dapat fokus terhadap pengelolaan usahanya.

    "Apalagi, pengalihan risiko yakni membayar premi AUTSK relatif kecil, sehingga peternak dapat memindahkan ketidakpastian risiko kerugian yang nilainya justru lebih besar," tambahnya.

    Kemudian, AUTSK ini juga memberikan jaminan perlindungan dari risiko kematian dan kehilangan sapi, dan meningkatkan kredibilitas peserta asuransi terhadap akses pembiayaan (Perbankan).

    “Jumlah premi AUTSK adalah sebesar dua persen dari nilai klaim senilai Rp10 juta. Satu ekor sapi yakni Rp200 ribu per tahun. Bantuan premi (Subsidi) dari pemerintah sebesar 80 persen atau Rp160 ribu per tahun, sehingga peternak hanya membayar sisanya Rp 40 ribu,” katanya.
     
    Kriteria peserta AUTSK ini adalah peternak sapi perorangan, koperasi, maupun perusahaan yang maksimal 15 ekor sapi betina produktif usia minimal satu tahun. Sedangkan persyaratanya ialah mempunyai surat kesehatan hewan ternak sapi yang dilengkapi microchip atau nomor Eartag tanda identitas di telinga.

    Klaim AUTSK yaitu kehilangan atau kecurian dan kematian karena penyakit dan kecelakaan termasuk mati karena melahirkan.

    "Risiko dapat diklaim atau diganti asuransi misalnya hewan ternak sapi mati karena melahirkan dan akibat wabah Anthrax, Septicemia Epizootica, Johne’s Disease, Tuberculosis, Anaplasmosis, Leucosis dan lainnya," papar Harini.

    Klaim AUTS/K cukup mudah. Peternak peserta AUTS/K melaporkan adanya hewan ternak sapi yang mati ke petugas PPL Kecamatan melalui Whatsaap maupun On Call. Kemudian, petugas PPL dan paramedik akan memerika untuk memastikan penyebab sapi mati.

    Setelah itu, bila hasil pemeriksaan sesuai kriteria, maka petugas akan memberikan surat visum yang dilengkapi Eartag sapi (Nomor telinga).

    "Petugas melaporkan melalui group yang akan diteruskan oleh Bidang Peternakan melaporkan ke aplikasi Jasindo. Jika laporan sudah masuk dan diproses menunggu pengiriman berkas Hard Copy pada pihak jasindo estimasi sekitar satu bulan," kata Harini.

    Klaim AUTSK sudah dibayarkan Jasindo pada peternak sapi di Kabupaten Mojokerto mencapai ratusan juta rupiah. Mayoritas klaim adalah hewan ternak sapi potong paksa. Nilai klaim setiap satu ekor sapi akibat penyakit mendapat Rp10 juta, potong paksa Rp5 juta, dan kehilangan Rp 7,5 juta.

    "Jumlah AUTSK yang sudah diklaim peternak di Kabupaten Mojokerto sebesar Rp174 juta," ungkapnya.

    Ditambahkannya, Diperta Kabupaten Mojokerto telah melampaui target dari Pemerintah Pusat untuk menjaring peternak sebagai peserta AUTSK yaitu maksimal 400 ekor sapi pada 2020. "Kami melebihi target yang sudah terealisasi 572 peserta AUTS yang berarti kenaikanan 172 ekor sapi," ucapnya.

    (ROS)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id